Senin, 25 April 2016

Biografi Plato

            Plato dilahirkan pada tahun 427 SM di Athena. Nama Plato yang sebenarnya adalah Aristocles (Plato adalah nama panggilan yang didasarkan pada fisik luarnya). Namanya bermula adalah Aristocles, nama Plato kemudian diberikan oleh gurunya saat ia bermain senam, ia memperoleh nama baru itu berhubung dengan bahunya yang lebar. Sepadan dengan badannya yang tinggi dan tegap. Raut mukanya, potongan tubuhnya serta parasnya yang elok bersesuaian benar dengan ciptaan klasik tentang manusia yang cantik. Bagus dan harmoni meliputi seluruh perawakannya.

Dalam tubuh besar dan sehat itu bersarang pula pikiran yang dalam dan menembus. Pandangan matanya menunjukkan seolah-olah ia mau mengisi dunia yang lahir ini dengan cita-citanya. Ia berasal dari keluarga Aristokrasi yang turun-temurun memegang peranan penting dalam politik Athena. Ia pun bercita-cita sejak mudanya untuk menjadi orang negara. Tetapi perkembangan politik pada masanya tidak memberikan kesempatan padanya untuk mengikuti jalan hidup yang diinginkannya itu.
Pelajaran yang diperolehnya dimasa kecilnya, selain dari pelajaran umum, ialah menggambar dan melukis, disambung dengan belajar musik dan puisi. Sebelum dewasa ia sudah pandai membuat karangan yang bersajak.
Sebagaimana bisanya dengan anak orang baik-baik di masa itu Plato mendapat didikannya dari guru-guru filosofi. Pelajaran filosofi mula-mula diperolehnya dari Kratylos. Kratylos dahulunya murid Herakleitos yang mengajarkan “semuanya berlalu” seperti air. Rupanya ajaran semacam itu tidak hinggap di dalam kalbu anak Aristokrat yang terpengaruh oleh tradisi keluarganya.
Filsuf Yunani yang dikabarkan terlahir dikalangan “keluarga terhormat”, ayahnya Ariston, disebut-sebut sebagai titisan Dewa Poseidon. Ayahnya adalah keturunan dari raja pertama Athena yang berkuasa pada abad ke-7 SM. Sementara ibunya, Perictions adalah keturunan keluarga Solon, seorang pembuat undang-undang, penyair, memimpin militer dari kaum ningrat dan pendiri dari demokrasi Athena terkemuka.
Sewaktu berumur 20 tahun, Plato  menghadiri ceramah Socrates dan memutuskan untuk menghabiskan waktu menekuni filsafat dan menjadi murid Socrates yang dapat memberi kepuasan sepenuhnya pada hasratnya terhadap pengetahuan dan kebijaksaan. Pengaruh Socrates semakin hari semakin mendalam padanya. Ia menjadi murid Socrates yang setia, sampai pada akhir hidupnya Socrates tetap menjadi pujaannya. Dalam segala karangannya yang selalu berbentuk dialog, bersoal-jawab, Socrates didudukannya sebagai pujangga yang menuntun. Dengan cara begitu ajaran Plato tergambar keluar melalui mulut Socrates. Juga setelah pandangan filosofnya sudah jauh menyimpang dan sudah lebih lanjut dari pendapat gurunya, ia terus berbuat begitu. Socrates digambarkannya sebagai jurubahasa isi hati rakyat di Athena yang tertindas karena kekuasaan yang saling berganti. Kekuasaan demokrasi yang meluap menjadi anarki dan sewenang-wenang digantikan berturut-turut oleh kekuasaan seorang tiran dan oligarki yang akhirnya membawa Athena lenyap ke bawah kekuasaan asing.
Plato memiliki kedudukan yang istimewa sebagai filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu, seni dan filosofi. Pandangan yang dalam dan abstrak sekalipun dapat dilukiskannya dengan gaya bahasa yang indah. Tidak ada seorang filosof sebelumnya dapat menandingi dalam hal ini. Juga sesudahnya tak ada. Hukuman yang ditimpakan itu dipandangnya suatu perbuatan zalim-meminum racun- besar sekali pengaruhnya atas pandangan hidup Plato. Socrates dimatanya adalah seorang yang sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya, orang yang tak pernah berbuat salah. Hukuman yang ditimpakan itu dipandangnya suatu perbuatan zalim semata-mata yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ia sangat sedih dan menanamkan dirinya seorang anak yang kehilangan bapak. Ia sedih, tetapi terpaku pada karena pendirian Socrates yang menolak kesempatan yang diberikan untuk melarikan diri dari penjara, dengan memperingatkan ajarannya: “lebih baik menderita kezaliman daripada berbuat zalim”.
Tak lama setelah Socrates meninggal, Plato pergi dari Athena. Itulah permulaan ia mengembara dua belas tahun lamanya, dari tahun 399-387SM. Mula-mula ia pergi ke Megara, tempat Euklides mengajarkan filosofinya. Beberapa lama ia di sana, tidak diketahuia betul. Ada cerita yang mengatakan bahwa ia di situ mengarang beberap dialog, yang mengenai berbagai macam pengertian dalam masalah hidup berdasarkan ajaran Socrates.
Dari Megara ia pergi ke Kyrena, di mana ia memperdalam pengetahuannya tentang matematika pada seorang guru yang bernama Theodoros. Di sana ia juga mengajarkan filosofis dan mengarang buku-buku.
Kemudian ia pergi ke Italia Selatan dan terus ke Sirakusa di Pulau Sisilia, yang pada waktu itu diperintah oleh seorang tiran, yang bernama Dionysios. Dionysios mengajak Plato tinggal di istananya. Ia merasa bangga, kalau di antara orang-orang yang mengelilinginya terdapat pujangga dunia dari Yunani yang tersohor namanya. Di situ Plato berkenalan dengan ipar raja Dionysios yang masih muda bernama Dion, yang akhirnya menjadi sahabat karibnya. Di antara mereka berdua terdapat kata sepakat, supaya Plato memengaruhi Dionysios dengan ajaran filosofinya, agar tercapai sebuah perbaikan sosial. Seolah-olah terasa oleh Plato bahwa suatu kesempatan yang baik sudah datang baginya untuk melaksanakan teorinya tentang pemerintahan yang baik dalam praktik. Sudah lama tertanam di dalam kalbunya, bahwa kesengsaraan di dunia tidak akan berakhir, sebelum filosof menjadi raja atau raja-raja menjadi filosof. Tetapi ajaran Plato yag dititikberatkan kepada pengertian moral dalam segala perbuatan, lambat laun menejmukan Dionysios.
Dengan tuduhan, bahwa Plato berbahaya bagi kerajaannya, Plato disuruhnya untuk ditangkap dan dijual sebagai budak. Nasib yang baik bagi Plato, di pasar budak ia dikenal oleh seorang bekas muuridnya, Annikeris dan ditebusnya. Kemudian peristiwa ini oleh sahabat-sahabat dan pengikut-pengikut Plato di Athena. Mereka bersama-sama untuk mengumpulkan uang untuk mengganti harga penebus yang dibayar oleh Annikeris. Tetapi dia menolak penggantian itu dengan kata-kata: ”bukan tuan-tuan saja yang mempunyai hak untuk memlihara seorang Plato”. Akhirnya uang yang terkumpul itu dipergunakan untuk membeli sebidang tanah yang diserahkan kepada Plato untuk dijadikan lingkungan sekolah tempat ia mengajarkan filosofinya. Di situ didirikan rumah sekolah dan pondok-pondok yang dihiasi sekitarnya dengan kebun yang indah. Tempat itu diberi nama “Akademia”. Di situlah Plato, sejak berumur 40 tahun, pada tahun 387SM sampai meninggalnya dalam usia 80 tahun, mengajarkan fiosofinya dan mengarang tulisan-tulisan yang kesohor sepanjang masa. Akademi itu hampir sama dengan komunitas Pythagoras, sejenis perkumpulan semi-agama yang menjadi tempat para pemuda kaya mempelajari matematika, astronomi, hukum, dan tentunya filsafat. Tempat belajar tersebut gratis dan menggantungkan seluruhnya pada bantuan. Untuk membenarkan keidealannya, Plato juga mengizinkan wanita untuk belajar di sana. Akademi itupun menjadi pusat belajar rakyat Yunani selama hampir satu milenium.
Cara Plato mengajar ialah berjalan-jalan di kebun, juga dalam mengajar seperti itu ia teruskan sistim dialog, bersoal-jawab, seperti yang dikemukakan Socrates. Kadang-kadang pada sekelompok murid dikemukakannya suatu soal yang akan dipecah bersama-sama dengan bersoal-jawab oleh mereka. Lantas ia berjalan ke kelompok lain dengan mengemukakan pula sebua soal yang harus mereka perbincangkan bersama-sama. Akhirnya Plato kembali kepada kelompok yang pertama untuk mendengar jawaban mereka atas soal yang diajukan tadi. Demikianlah seterusnya ia berkeliling.
Mereka memberi uraian dari mengajar filosofi berdasarkan dialog, bersoal-jawab, adalah kerja Plato yang terutama di Akademia itu. Hanya dalam waktu luang ia mencurahkan pikirannya pada karang-mengarang tentang berbagai masalah yang ditinggalkannya berupa tulisan.
Pada tahun 367SM setelah Plato 20 tahun menetap di Akademia, diterimanya undangan dan desakan dari Dion untuk datang ke Sirakusa. Dionysios yang jahat sudah meninggal. Ia digantikan sebagai raja oleh anaknya dengan nama Dionysios II. Dion berharap, supaya Plato dapat mendidik dan mengajarkan kepada raja yang masih muda itu “pandangan filosofi tentang kewajiban pemerintah menurut Plato”. Tertarik oleh cita-citanya untuk melaksanakan teori pemerintahannya di dalam praktik, Plato berangkat ke Sirakusa. Ia disambut oleh raja dengan gembira. Tetapi bagi raja itu, filosofi tidak begitu menarik dan pada saat itu fitnah, hasutan merajarela dalam istana itu. Akhirnya Dion dibenci oleh raja dan dibuang ke luar Sisilia. Segala usaha  Plato untuk membelanya tidak berhasil. Dia sendiri dengan bersusah payah baru dapat kembali ke Athena.
Tetapi enam tahun kemudian, pada tahun 361SM, hati Plato terpikat lagi untuk datang ketiga kalinya ke Sirakusa. Raja Dionysios II memandang sebagai suatu kehormatan, apabila seorang filosof yang begitu kesohor berada di dalam istananya, dengan maksud itu diundangnya Plato ke Sirakusa. Plato datang ke Sirakusa dengan niat untuk mendamaikan petentangan antara Raja Dionysios II dengan sahabatnya Dion dan berusaha supaya dia boleh pulang kembali ke Sirakusa, tetapi usahanya itu tidak berhasil. Harapannya untuk mencoba sekali lagi melaksanakan cita-citanya tentang pemerintahan yang baik dalam praktik gagal kembali. Dengan kesabaran hati seorang filosof ia kembali ke Akademia sebagai guru dan pengarang.
Seorang filosof menulis tentang dia sebagai berikut: “Plato pandai berbuat. Ia dapat belajar seperti Solon dan mengajar seperti Socrates. Ia pandai mendidik pemuda yang ingin belajar dan dapat memikat hati dan perhatian sahabat-sahabat pada dirinya. Murid-muridnya begitu sayang padanya seperti ia sayang kepada mereka. Dia itu bagi mereka adalah guru, sahabat dan penuntun”.
Tatkala seorang muridnya merayakan perkawinannya, Plato yang sudah berumur 80 tahun datang juga pada malam perjamuan itu. Ia turut riang dan gembira. Setelah agak larut malam, ia mengundurkan diri kepada suatu sudut yang sepi dalam rumah itu. Di sana ia tertidur dan tidur untuk selama-lamanya dengan tiada bangkit lagi. Esoknya seluruh Athena mengantarkannya ke kubur.
Plato tidak pernah kawin dan punya anak, keponakannya Speusippos menggantikannya mengurus Akademia.

1.      Karya Plato
            Tulisan Plato hampir rata-rata berbentuk dialog. Jumlahnya tidak kurang dari 34 buah. Belum dihitung lagi tulisannya yang berupa surat dan puisi. Yang sukar ialah menentukan waktu karangannya. Semuanya ditulisnya dalam masa lebih dari setengah abad. Tetapi bagaimana urutan terbitnya? Sungguh pun kebanyakannya berdasar atas idea,cita-cita yang tertinggi, idea kebaikan, pokok pendirian dalam dialog-dialog itu tidak serupa semuanya. Ia mungkin berlain-lain menurut masalah dan waktu. Ada ahli yang memahamkan perbedaan-perbedaan itu sebagai kemajuan dalam pikiran Plato. Kemajuan pikiran itu tidak mengherankan, melihat lamanya ia mengasah pikirannya dengan filosofi.
            Ada dua pendapat yang terkemuka tentang cara memahamkan buah tangan Plato yang sebanyak itu. Yang pertama cara metodik yang dikemukakan oleh FR. Schleiermacher dalam kata pendahuluan bukunya, yang berisikan terjemahan dialog-dialog Plato ke dalam bahasa Jerman (1804-1810 dan 1828). Yang kedua cara genetik, mengikuti perkembangan yang dikemukakan oleh Carl Friedrich Hermann dalam bukunya tentang “Sejarah dan Sistim Filosofi Plato”,terbit pada tahun1839.
            Schleiermacher mengatakan bahwa ketegasan kata plato tidak dapat diketahui dari tulisannya saja. Bagian terbesar dari pendapat yang dikemukakannya waktu mengajarkan filosofinya. Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah ialah bahwa ajaran yang dibentangkannya kepada pembacanya sudah dipahamkannya benar-benar. Jadi cara ia mengajarkan itu berdasar atas suatu rencana metodik. Mula-mula disiapkannya pembacanya dengan pengetahuan yang elementer. Kemudian diajaknya pembacanya memikirkan hal-hal itu seterusnya dengan jalan dialektik, hingga akhirnya pikirannya matang tentang masalah itu. Dalam tulisan-tulisannya yang konstruktif sekali, seperti Dialoge, Republik, dan Timaios, terdapat pelajaran sepenuhnya tentang masalah yang terakhir.
            Hermann tidak begitu pendapatnya. Ia mengatakan bahwa dari tulisan-tulisan Plato dapat diikuti perkembangan pikirannya sendiri. Ia bermula pada yang kecil kemudian maju sampai pada yang besar.
            Tetapi betapa juga berbeda pendirian tentang menangkap buah pikiran Plato, tentang menentukan urutan tulisan dialognya ada persamaan pendapat.Segala yang ditulisnya itu dapat ditempatkan ke dalam empat masa, tiap-tiap masa mempunyai karakteristiknya sendiri.
Pertama, karangan-karangan yang ditulisnya pada masa mudanya yaitu waktu Socrates masih hidup sampai tak lama sesudah ia meninggal. Buku-bukunya yang diduga ditulis dalam masa itu ialah Apologie, Kriton, Ion, Protagoras, Laches,Politeia Buku I, Lysis, Charmides dan Eutyphron.
Dalam seluruh dialog itu Plato tetap berpegang pada pendirian gurunya Socrates. Dalam buku-buku itu tidak tidak terdapat buah pikiran Plato yang timbul kemudian yang menjadi corak filosofinya, yaitu ajaran tentang idea. Cita-cita yang sangat dikemukakannya dalam segala tulisan di masa itu ialah pembentukan pengertian dalam daerah etik. Misalnya soal-jawab tentang keberanian dalam Laches, soal-jawab tentang keadilan dalam Politeia Buku I dengan tiada menetapkan kata keputusan. Dalam tulisannya yang berkepala Protagorus tajam sekali dikemukakan pertentangan ajaran kaum sofis dengan Socrates. Tujuan daripada uraian dengan bersoal-jawab di situ ialah untuk menegaskan pendapat Socrates bahwa budi itu dapat dipelajari dan budi itu pokoknya satu. Dari cara ia menguraikan persoalan itu dapat diduga , bahwa tulisan itu ditulis sebelum Socrates meninggal.
Kedua, buah tangan yang ditulisnya dalam masa yang terkenal sebagai “masa peralihan”.Masa itu disebut juga masa Megara, yaitu waktu Plato tinggal sementara di situ. Dialog-dialog yang diduga ditulisnya dalam masa itu ialah Gorgias, Kratylos, Menon, Hippias dan beberapa lainnya. Persoalan yang diperbincangkan di situ kebanyakan mengenai pertentangan politik dan pandangan hidup yang dikemukakannya dengan kata-kata yang bagus tetapi bersemangat. Pertentangan antara ajaran kaum sofis dan pendapat Socrates diuraikan dengan ucapan-ucapan yang lebih tajam. Plato mengecam retorika dengan sehebat-hebatnya, berhubung dengan nihilisme politik dan sosial kaum sofis. Dialog Giorgias terutama dipergunakannya untuk itu. Meluapnya semangat dan tajamnya kata-kata kritik menujukkan , bahwa dialog ini ditulis tak lama sesudah Socrates meninggal.
Dalam masa peralihan itu sudah terbayang perkembangan pikiran Plato keluar garis Socrates. Pada ajaran Socrates yang mencari pengertian, disambungkan pendapat filosofi sebelumnya, terutama pendirian orfisisme dan Phytagoras. Dalam beberapa dialog tergambar pendapat Plato tentang hidup sebelum lahir ke dunia dan tentang jiwa yamg hidup selama-lamanya. Di sini terdapat permulaan pikirannya ke jurusan idea, yang kemudian menjadi pusat pandangan filosofisnya.
Ketiga, buah tangan yang disiapkannya di masa matangnya. Tulisannya yang terkenal pada waktu itu dan kesohor sepanjang masa ialah Phaidros, Symposion, Phaidon dan Politeia Buku II-X. Ajaran tentang idea menjadi pokok pikiran Plato dan menjadi dasar bagi teori pengetahuan, metafisika, fisika, psikologi, etik, politik dan estetika. Terutama dalam Phadros terang ternyata perkembangan pikiran ini. Berdasarkan pandangan agama, yang terpengaruh oleh ajaran orfisisme dan Phytagoras, ia menggambarkan sifat dan nasib jiwa manusia. Jiwa itu senantiasa melayang antara tempat tinggalnya yang ada di langit dan tubuh-tubuh yang ada di dunia ini. Tarikan untuk bergerak ke alam yang tidak kelihatan itu ialah cinta (Eros) yang sebenarnya. Dan itulah intisari dari sebuah filosofi.
Penyudahan buku Politeia (Republik) yang mulai dikarangnya dalam masa mudanya dan yang menjadi tujuan kerjanya yang terutama, terjadi dalam masa ini. Dalam buku pertama diperbincangkan: Apa yang disebut keadilan? Dalam buku sambungnya itu Plato menyudahkan gambaran pendapatnya tentang negara yang ideal. Dalam buku Politeia ini yang diciptakan dari masa ke masa, tergambar perkembangan filosofinya, dari mencari penetapan tentang pengertian sampai pada memahamkan keadaan dalam dunia yang lahir dari jurusan idea yang kekal.
Keempat, buah tangan yang ditulisnya pada hari tuanya .Dialog-dialog yang dikarangnya di masa itu sering disebut Theaitetos, Parmenides, Sophistos, Politikos, Philibos, Timaios, Kritias dan Nomos. Tetapi ada ahli yang menyangsikan keaslian beberapa dialog itu. Apakah dialog no.2,3,4 dan 5 dalam urutan ini benar-benar ditulis oleh Plato, mungkin dialog-dialog itu dikarang oleh murid-muridnya berdasarkan uraian dan pelajaran yang diberikannya.
Ada suatu perubahan nyata dalam suatu uraiannya pada masa itu. Idea, yang bisanya meliputi seluruhnya, terletak sedikit ke belakang. Kedudukan logika lebih terkemuka. Perhatian kepada keadaan yang lahir dan kejadian dalam sejarah bertambah besar. Untuk memahamkan isi Timaios seluruhnya orang harus mempunyai pengetahuan lebih dahulu tentang imu-ilmu spesial, terutama ilmu alam dan ilmu kesehatan. Dengan uraian yang terbentang di dalam dialog itu Plato membawa pembacanya ke daerah kosmologi dan filosofi alam. Dialog itu menunjukkan bahwa Plato bukan saja seorang filosof yang menguasai seluruh filosofi Yunani sebelumnya, tetapi mempelajari juga ilmu spesial yang diketahui pada masanya. Dalam pikirannya itu semuanya tersusun ke arah satu tujuan. Tamaios boleh dikatakan suatu ajaran teologi tentang lahirnya dunia dan pemerintahan dunia.
Dalam Timaios terdapat suatu paduan antara filosofi Elea dan filosofi Herakleitos pada tingkat yang lebih tinggi. Seperti dalam dialog yang dulu-dulu Plato tetap memisah antara Adanya, satu-satunya yang dapat menjadi objek pengetahuan dasar pikiran dan yang menjadi senantiasa, yang menjadi pokok pandangan yang menimbulkan penglihatan dan uraian yang tidak tepat. Yang adanya yang tetap dan kekal adalah bentuk asal,idea. Dan Idea itulah yang menjadi pedoman bagi Tuhan untuk membangun dunia ini.
Paham Plato tentang pembentukan dunia ini berdasar pada pendapat Empedokles, bahwa alam ini tersusun dari empat anasir yang asal, yaitu api, udara, air dan tanah. Tetapi tentang proses pembangunan seterusnya berlainan pendapatnya. Menurut Plato Tuhan sebagai pembangun alam menyusun anasir yang empat itu dalam berbagai bentuk menjadi satu kesatuan. Ke dalam bentuk yang satu itu Tuhan memasukkan jiwa dunia yang akan menguasai dunia ini. Karena itu pembangunan dunia itu sekaligus menentukan sikap hidup manusia dalam dunia ini.
Sepadan dengan itu pendapat Plato dalam Nomoi (hukum). Di situ terdapat uraian yang panjang lebar tentang syarat-syarat hidup bernegara. Dari berbagai tulisan Plato pada masa tuanya itu tampak pula, bahwa pengaruh Phytagoras tentang hidup santer bertambah besar atasnya. Dalam suatu lukisan mitos digambarkannya suatu cara membersihkan jiwa, sifat hukuman balasan atas perbuatan dan perihal hidup sesudah mati.
Hampir semua dialog yang dikarang Plato adalah campuran antara filosofi, puisi, ilmu dan seni. Dan uraiannya yang berupa percakapan dengan bersoal-jawab itu dibungainya pula dengan kata-kata sindiran, ironi dan kiasan serta dongeng yang berisikan teladan. Fakta dan mitos kadang-kadang bercampur-baur dalam lukisan ceritera bertukar pikiran. Sebab itu orang tak mudah mengerti apa yang dimaksudnya, sekalipun gaya katanya indah sekali. Hanya ahli-ahli yang kenal kesusastraan Yunani lama dan mengetahui tentang keadaan sosial  dan pandangan agama di situ pada waktu itu, dapat menangkap maksudnya yang sebenarnya. Tetapi tujuan filosofinya terang. Dengan pengertian yang dalam tentang bangsa dan masanya Plato mencari dasar baru untuk perbaikan. “Jauh daripada mencari kesenangan rohani dengan buta memandang dunia ke atas- kata Windelband dicarinya dari situ ideal hidup baru untuk mengubah kenyataan yang lama. Dengan keberanian yang luar bisa ia berjuang menentang yang berkuasa di dunia dan berusaha dengan sepenuh jiwa untuk memperbaiki dunia dan menobatkannya”.

2.      Tentang Idea
Dalam ajaran filosofi Plato bertaut segala filosofi Yunani yang dibentangkan sebelumnya. Ajaran Herakleitos yang bertentangan dengan ajaran Permenides, pendapat kaum sofis yang bertentangan dengan Socrates mencapai sintesenya, penggabungannya, pada tingkat yang tinggi.
Intisari daripada filosofi Plato ialah pendapatnya tentang idea. Itu adalah suatu ajaran yang sangat sulit memahamkannya. Salah satu sebab ialah bahwa pahamnya tentang idea selalu berkembang. Bermula idea itu dikemukakannya sebagai teori logika. Kemudian meluas menjadi pandangan hidup, menjadi dasar umum bagi ilmu dan politik sosial dan mencakup pandangan agama.
Dalam filosofi sebelum Socrates sering terdapat persoalan dan pertentangan sekitar masalah Adanya. Bagaimana kedudukan Adanya itu dianggap satu dan tetap terhadap yang banyak dan yang berubah-ubah senantiasa? Plato meninjau lebih dalam dengan mengemukakan pertanyaan: “Apakah yang disebut Adanya?”, apakah kita tidak perlu mempunyai pengertian yang tepat lebih dahulu tentang Adanya. Sebelum mempersoalkan dengan apa ia sama, mana dan berapa bagiannya? Memang, Socrates telah mulai filosofinya dengan mancari pengertian tentang itu: apa yang disebut berani, apa yang dikatakan berpaham, apa keadilan, apa adanya kebaikan? Jalan yang ditempuhnya untuk memperoleh pengertian itu ialah jalan induktif, bertanya kepada tiap-tiap orang yang bersoal tentang itu. Pengertian yang umum tentang apa yang disebut berani, berpaham, keadilan dan keadilan hendak dicapai dari pendapat-pendapat orang banyak.
Plato meningkat lebih tinggi. Ia memajukan lebih dahulu pengetahuan yang pokok. Ia bertanya, apakah yang disebut adanya selama-lamanya, tetapi tak pernah ada?.Yang pertama dipahamkan dengan kecerdasan berpikir, menyatakan yang tetap dan tinggal serupa selama–lamanya. Yang satu lagi dikatakan hasil daripada pandangan yang teliti, melihat timbul dan hilang, tetapi sebenarnya tak pernah ada.
Di sini Plato memisah kenyataan yang kelihatan dalam alam yang lahir, di mana berlaku pandangan Herakleitos dan alam pengertian yang abstrak di mana berlaku pandangan Permenides.Dalam bidang yang pertama yang ada hanya kiraan. Sebab kalau semuanya mengalir dengan tidak berhenti-hentinya, tiap barang bagi tiap orang pada setiap waktu hanya berupa seperti yang terbayang dimukanya. Maka manusia menjadi ukuran dari segalanya, seperti dikatakan oleh Phytagoras. Tetapi pengetahuan dapat memberikan apa yang tetap adanya, yaitu idea.
Pengertian yang dikemukakan oleh Socrates, diperdalam oleh Plato menjadi idea. Idea itu lain sekali hubungannya dengan pendapat orang-orang. Berlakunya idea itu tidak bergantung kepada pandangan dan pendapat orang banyak. Ia timbul semata-mata dari kecerdasan berpikir. Pengertian yang dicari dengan pikiran ialah idea, Idea pada hakikatnya sudah ada. Tinggal mencarinya saja lagi.
Pokok tinjauan filosofi Plato ialah mencari pengetahuan tentang pengetahuan. Ia bertolak dari ajaran gurunya Socrates yang mengatakan,” budi ialah tahu”. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan sebagai dasar filosofi. Pertentangan antara pikiran dan pandangan menjadi ukuran bagi Plato. Pengertian yang mengandung di dalamnya pengetahuan dan budi yang dicarinya bersama-sama dengan Socrates pada hakekatnya dan asalnya berlainan sama sekali dari pemandangan. Sifatnya tidak diperoleh dari pengalaman. Pemandangan hanya alasan untuk menuju pengertian. Ia diperoleh atas usaha akal sendiri.
Kalau kita melihat seekor kuda yang bagus atau seorang perempuan yang cantik, penglihatan itu hanya mengingatkan kita dalam keinsafan kita pengertian bagus yang sebenarnya yang tidak seluruhnya tergambar pada kuda yang bagus itu atau perempuan yang cantik. Pengertian bagus yang sebenarnya bukanlah pula kumpulan segala yang bagus yang kelihatan pada benda-benda. Terhadap segala yang dipandang itu idea merupakan suatu ideal, cita-cita. Bangunan yang tampak dengan pandangan tidak lain daripada tiruan akan gambaran yang tidak sempurna daripada bangunan yang sebenarnya dalam pengertian, ia serupa tapi tak sama.
Pendapat ini diteruskan oleh Plato ke dalam daerah filosofi bahasa. Kata-kata tidak pernah menggambarkan pengertian yang sebenarnya. Ambil misalnya pembicaraan antara dua orang. Apa sebab mereka saling mengerti? Bagaimana pendapat mereka tentang sesuatu pengertian bisa serupa atau berbeda? Kata tak lain daripada bunyi. Bagaimana kata itu bisa mempunyai arti? Pendengaran bunyi kata itu tidak menentukan maksud kata yang terdengar itu. Kata-kata sebagai bunyi hanya merupakan simbol daripada sesuatunya yang terletak di belakangnya, kata itu hanya mengingatkan dalam keinsafan kita bahwa ada yang bersembunyi di belakangnya. Hanya pikiran dapat menangkap logika yang tepat daripada hubungan kata-kata itu. Berpikir dan mengalami adalah dua macam jalan yang berbeda untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang dicapai dengan berpikir lebih tinggi nilainya dari pengetahuan yang diperoleh dengan pengalaman.
Sekarang bagaimana hubungan antara pikiran dan pengalaman?Untuk menggambarkannya Plato melahirkan dua macam dunia, yaitu dunia yang kelihatan dan bertubuh dan dunia yang tidak kelihatan dan tidak bertubuh. Dunia yang kelihatan dan bertubuh adalah dunia yang lahir terdiri dari barang-barang yang dapat kita lihat dan alami, yang berubah senatiasa menurut benda dan waktu. Dunia yang tidak kelihatan dan tidak bertubuh adalah dunia daripada idea. Dunia yang imateriil, tetap dan tidak berubah-ubah.
Idea menurut paham Plato tidak saja pengertian jenis, tetapi juga bentuk daripada keadaan yang sebenarnya. Idea bukanlah suatu pikiran, melainkan suatu realita. Pendapat Plato tentang dunia yang tidak bertubuh merupai pendapat Parmenides tentang Adanya yang satu, kekal dan tidak berubah-ubah. Tetapi yang baru dari ajaran Plato ialah pendapatnya tentang suatu dunia yang imateriil, dunia yang tidak bertubuh. Filosofi Yunani sebelum dia tidak mengenal gambaran dunia semacam itu. Juga Adanya dalam pikiran Parmenides yang mengisi ruang sepenuh-penuhnya, sehingga di sebelah Adanya tidak ada lagi tempat yang kosong, masih merupakan sesuatu yang tidak bertubuh.
Dunia yang bertubuh adalah dunia yang dapat diketahui dengan pandangan dan pengalaman. Dalam dunia itu semuanya bergerak dan berubah senantiasa, tidak ada yang tetap dan kekal. Dari pandangan dan pengalaman saja tidak pernah tercapai pengetahuan pengertian. Berhadapan dengan itu terdapat dunia yang tidak bertubuh daripada idea, yang lebih tinggi tingkatnya dan menjadi objek dari pengetahuan pengertian. Apabila pengertian yang dituju itu memperoleh bentuknya yang tepat, ia tidak berubah-ubah lagi dan bertempat di dalam dunia idea. Idea itulah yang melahirkan pengetahuan yang sebenarnya.
Pada gambaran Plato tentang dunia yang dua itu terdapat tingkat yang mempertalikan buah pikiran filosofi yang lama. Ajaran Herakleitos tentang semuanya mengalir, di mana tak ada yang tetap, dapat ditampung dalam dunia Plato yang bertubuh. Dunia yang kelihatan yang berisikan badan-badan bertubuh, yang menjadi objek pemandangan dan pengalaman, yang berjenis rupa dan berubah senantiasa disebutnya dunia Herakleitos yang selalu dalam kejadian. Di situ didapati terus menerus timbul dan hilang dengan tidak ada yang tetap. Pikiran Parmenides yang bersendi pada Adanya yang satu dan tetap, yang meniadakan kelihatan banyak dan berubah-ubah, dapat ditempatkan dalam dunia Plato yang tidak bertubuh, dunia Idea.
Juga pertentangan yang hebat antara kaum sofis dan Socrates dialirkan oleh Plato ke dalam dunia yang berada sebelah-menyebelah itu. Dalam memperdalam pendapat Socrates tentang pengertian, ia memasukkan ke dalam ajarannya teori pengetahuan kaum sofis yang berdasarkan pendapat Phytagoras bahwa “manusia adalah ukuran dari segala-galanya”. Plato menambahkan, bahwa dari pemandangan saja tidak pernah tercapai pengetahuan dengan pengertian. Pemandangan saja tidak dapat membangun ilmu. Di sebelah situ mesti ada pengetahuan dengan pikiran untuk mencapai kebenaran yang sebenar-benarnya, yang umum bagi segala orang. Pikiran dan pengalaman adalah dua macam tingkat yang berlainan. Nilainya pun berlainan pula.
Dalam konsepsi Plato, dunia yang bertubuh dan dunia yang tidak bertubuh terpisah sama sekali. Ini kelanjutannya pada pendapatnya tentang perbedaan antara pikiran dan pandangan. Pengetahuan dan pengertian hanya mengenal dunia yang ada dan tidak menjadi. Pandangan dan pengalaman mengenal dunia yang selalu menjadi. Tetapi dunia yang bertubuh tidaklah semata-mata berdiri sendiri. Ada hubungannya di mana-mana dengan dunia yang tidak bertubuh, dunia idea, yang memberikan makna dan tujuan kepada dunia yang lahir. Bagaimana hubungan yang dua itu?
Suatu contoh hubungan itu dapat dilihat dalam daerah matematik. Matematik bekerja dengan segitiga, buntaran dan bola, yang tidak terdapat dalam dunia yang lahir. Semua itu adalah gambaran daripada idea yang hidup di dalam dunia yang tidak kelihatan, dunia atas. Simbol daripada realita yang sebenarnya. Bangunan-bangunan yang digambar dan dibuat itu adalah tiruan yang tidak sempurna daripada bentuk matematik yang sebenarnya. Ia merupai idea dari dunia atas, tetapi tidaklah sama dengan itu.
Suatu contoh lain tampak pada pekerjaan membangun. Seorang pembuat barang-barang tembikar memadu tanah liat menjadi kendi. Kepada tanah yang tidak berbentuk itu diberikannya bentuk berupa kendi. Dari mana diperolehnya bentuk yang memberikan rupa kepada kendi itu? Bentuk itu tidak ada pada barang yang dikerjakannya. Bentuk itu datang dari luar. Hal ini ternyata lebih lagi pada suatu macam barang yang dibuat untuk pertama kalinya. Contoh yang dapat ditiru belum ada kelihatan dalam dunia yang lahir ini. Si pandai tukang dapat membuatnya karena bangunan barang baru itu tertanam dalam kepalanya sebagai tiruan daripada bentuk “barang” asal yang berada dalam dunia yang tidak bertubuh, dunia idea.
Mengenai hubungan dunia yang dua itu, perlu juga diperhatikan bahwa Plato membagi pengertian yang ada di dalam dunia idea itu dalam dua golongan. Pertama, pengertian budi, yang dicari Socrates dengan ketentuan normatif. Pengertian budi itu akan menentukan tujuan dan nilai daripada kehidupan etik. Kedua, pengertian matematik yang dalam pengalaman tidak pernah dilaksanakan. Dalam pandangan tidak pernah terdapat bangunan matematik yang sebenarnya. Bola yang diperbuat dengan alat teknik dengan sebaik-baiknya pun tidak akan sempurna, tidak sama dengan bola dalam pengertian matematik. Pembagian pengertian dalam dua golongan itu besar kelanjutannya dalam praktik hidup dan ilmu.
Soal yang pokok yang terbawa oleh konsepsi dunia yang dua itu, dunia yang nyata yang dapat dialami dan dunia yang nurani berisikan idea, ialah hubungan antara barang-barang satu-satunya dengan pengertian umumnya. Jika sekiranya tidak ada idea yang berlaku tetap, dunia yang lahir tidak dapat dipahamkan, kacau balau rupanya. Semuanya berubah dan berganti, sehingga tak ada kebenaran yang dapat tinggal. Dan tidak akan mungkin timbul pengetahuan dan ilmu.
Hubungan antara dunia yang nyata dan dunia yang tidak bertubuh pada Plato serupa dengan hubungan menjadi pada Herakleitos dan Adanya Parmenides. Idea menjadi dasar bagi yang ada.Dari dunia atas idea menguasai kenyataan-kenyataan dalam dunia yang lahir yang timbul dan lenyap. Sebab itu pengetahuan tentang dunia idea penting sekali dan harus menjadi tujuan bagi pengetahuan yang sebenarnya.
Sekarang timbul pertanyaan: Bagaiman orang memperoleh pengetahuan tentang dunia itu ? Dapatkah idea diketahui sebagai hasil dari pemandangan., seperti yang diutarakan oleh Demokritos? Menurut Plato tidak, sebab idea itu tempatnya dalam dunia yang lain. Segala pengetahuan adalah tiruan dari yang sebenarnya, yang timbul dalam jiwa sebagai ingatan kepada dunia yang asal. Di sini jiwa muncul sebagai “penghubung” antara dunia idea dan dunia yang bertubuh. Karena melihat sesuatunya teringat oleh jiwa gambaran yang asal, yang diketahuinya sebelum ia turun ke dunia. Pandangan hanya alasan untuk ingat kepada idea. Segala pengetahuan dengan pengertian adalah ingatan kata Plato. Itulah intisari teori pengetahuannya.
Dalam masa, waktu jiwa belum terikat kepada badan manusia, ia sanggup melihat idea itu dari dekat. Juga jiwa bertempat dalam dunia yang tidak bertubuh, dunia idea. Setelah jiwa jatuh ke dunia dan terikat kepada tubuh, idea itu setiap kali timbul dalam ingatannya. Kalau terpandang barang-barang dalam dunia yang lahir ini, teringat olehnya idea sebagai bentuk yang asal daripada barang itu. Segala pengtahuan adalah bentuk daripada ingatan.Mempunyai pengetahuan yang sebenarnya berarti merebut kembali milik yang asli. Dalam pekerjaan untuk memperoleh pengetahuan dengan pengertian, jiwa bergerak selangkah demi selangkah ke atas ke dunia idea, dunia asalnya. Kerinduan jiwa untuk naik ke atas, ke tempat asalnya, adalah suatu gerak filosofi, gerak eros, cinta. Cinta pada pengetahuan, filosophia, menimbulkan tujuan untuk mengetahui. Bahwa jiwa ingat kembali apa yang dahulu diketahuinya dan bahwa ia merebut kembali apa yang dahulu dimilikinya, adalah tanda yang ia itu hidup selama-lamanya.
Menurut Plato, sebanyak pengertian sebanyak itu pula jenis idea. Terdapat tiap pengertian yang bersangkutan dengan barang, sifat, hubungan, ada idea yang bertepatan. Tetapi seluruh dunia idea itu merupakan satu kesatuan yang di dalamnya terdapat pertingkatan derajat. Idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, sebagai Tuhan yang membentuk dunia. Plato menyamakannya dengan matahari yang menyinari semuanya. Idea kebaikan tidak saja sebab timbulnya tujuan pengetahuan dalam dunia yang lahir, tetapi juga sebab tumbuh dan berkembang segala-galanya.Idea kebaikan adalah pokok. Karena itu dunia idea tersusun menurut sistim teleologi atau logika yang teratur ke jurusan satu tujuan yang sudah ditentukan. Suatu susunan yang teratur tepat menurut tujuan yang sudah tertentu. Karena sinar yang memancar dari idea kebaikan, semuanya tertarik padanya dan arena itu ia jadi sebab tujuan dari segala-galanya. Dalam dunia yang asal ia sebab dari Adanya dan pengetahuan. Tetapi sebab itu pada hakekatnya  tidak lain daripada tujuan.
Kemudian berikut idea keindahan yang rapat sekali hubungannya dengan idea yang tertinggi. Ia adalah satu bentuk yang terutama daripada bayangan yang baik dalam dunia yang nyata. Cahaya dari yang indah itulah yang menjadkan jiwa takjub dan rindu hendak kembali ke dunia yang asal. Yang indah menjadi penghubung yang bekerja kuat antara dunia yang tidak kelihatan dan dunia yang lahir. Jiwa yang indah yang menjelma dalam perbuatan menyelenggarakan adab, seni, ilmu, pendidikan, dan usaha politik, akhirnya naik ke atas dalam bentuk indah yang murni ke tempat asalnya dalam dunia yang tidak bertubuh. Demikianlah seterusnya tersusun idea berturut-turut dalam urutan yang diliputi oleh kesatuan.
Tetapi dalam logikanya susunan dan persangkutan idea itu menghadapi kesulitan. Apabila dunia idea sejalan susunannya dengan jenis pengertian, apakah dunia itu berisikan pula bentuk asal dari kejahatan dan keburukan?Plato sendiri sukar keluar dari kesulitan ini.
Tentang hubungan benda-benda dengan idea, Plato ada kalanya menyebut “ikut-serta” benda itu pada idea atau “hadirnya” idea itu pada benda-benda. Yang pertama, jika ditinjau dari jurusan barang, dan yang kedua, jika ditinjau dari urusan idea. Tetapi kedua pengertian itu dalam logikanya bertentangan dengan penerimaan dua dunia yang terpisah sama sekali. Dengan cara sofistik atau metode Zeno orang dapat menyerang dan meruntuhkan keutuhan filosofi Plato. Tetapi dengan niat yang baik maksudnya dapat ditangkap. Kesulitan yang sebenarnya terletak pada kekurangan bahasa untuk menggambarkan pengertian hubungan dengan setepat-tepatnya.
Dalam ajaran Plato tentang idea ada satu konsepsi yang ganjil rupanya, tetapi tepat duduknya, jika di tinjau dari caranya berpikir. Antara dunia yang bertubuh dengan dunia yang tidak bertubuh dibentangkannya suatu daerah perpisahan yang netral. Daerah itu merupakan daerah lukisan matematik, angka-angka dan bangunan-bangunan ilmu ukur. Lukisan itu berbeda dengan dunia yang berubah-ubah dan sementara karena ia berlaku tetap untuk selama-lamanya. Sifatnya sama dengan idea. Ia berbeda dengan idea, karena bangunannya itu dapat dilihat dan berulang-ulang dilukiskan. Dalam hal ini ia serupa dengan barang-barang yang bertubuh.
Lukisan matematik ini ada maknanya. Plato menggambarkan dengan itu suatu cara, bagaimana jiwa bisa naik ke atas, dari dunia yang lahir kelihatan ke dunia idea. Yang tinggi-tinggi tidak dapat dicapai sekaligus dengan sekali lompat. Matematik adalah alat yang baik untuk meningkat berangsur-angsur dengan urutan yang tepat. Bimbingannya menuju dunia idea begitu baik menurut Plato, sehingga di atas pintu masuk ke Akademia disuruhnya rekamkan kalimat”Orang yang tidak tahu matematik jangan masuk ke sini”.

3.      Etik Plato
            Seperti juga dengan pandangan Socrates, etik Plato bersifat intelektual dan rasional. Dasar ajarannya ialah mencapai budi yang bak. Budi ialah tahu. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Sebab itu sempurnakanlah pengetahuan dengan pengertian.
            Tujuan hidup ialah mencapai kesenangan hidup. Yang dimaksud dengan kesenangan hidup itu bukanlah memuaskan hawa nafsu di dunia ini. Kesenangan hidup diperoleh dengan pengetahuan yang tepat tentang nilai barang-barang yang dituju. Di bawah cahaya idea kebaikan orang harus mencapai terlaksananya keadilan dalam pergaulan hidup. Apa yang baik bagi orang-seorang baik bagi masyarakat. Dan apa yang baik bagi masyarakat baik bagi orang-seorang. Antara kepentingan orang-seorang dan kepentingan masyarakat tidak boleh ada pertentangan.
            Pendapat Plato seterusnya tentang etik bersendi pada ajarannya tentang idea. Dualisme dunia dalam teori pengetahuan diteruskannya ke dalam praktik hidup. Oleh karena kemauan seseorang bergantung kepada pendapatnya, nilai kemauannya itu ditentukan pula oleh pendapat  itu. Dari pengetahuan yang sebenarnya yang dicapai dengan dialektik timbul budi yang lebih tinggi daripada yang dibawakan oleh pengetahuan dari pandangan. Jadinya, menurut Plato, ada dua macam budi.
            Pertama, budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dan pengertian. Kedua, budi bisa yang terbawa oleh kebisan orang banyak. Sikap hidup yang dipakai tidak terbit dari keyakinan, melainkan disesuaikan kepada moral orang banyak dalam hidup sehari-hari.
            Tujuan budi filosofi terletak di dalam dunia yang tidak kelihatan. Budi bisa tujuannya ialah barang-barang keperluan hidup di dunia ini. Oleh karena tujuannya berlainan, daerah berlakunya berlainan pula. Dengan begitu Plato mengatasi pertentangan antara ajaran Socrates dan ajaran kaum sofis. Tetapi ada hubungan antara yang dua itu. Hubungan itu timbul karena kerinduan jiwa untuk kembali pulang ke dunia yang asal. Semua yang kelihatan merupai yang tidak kelihatan. Jiwa yang murni sangat rindu kepada dunia yang asal, dimana ia dapat memandang semuanya dalam kesuciannya dan kesempurnaannya. Hal ini menjadi dasar yang normatif bagi etik dan agama.
            Manusia yang mengetahui yang tinggi-tinggi itu yang disinari oleh idea kebaikan, tidak dapat tidak mencintainya. Keinginannya tidak lain dari pada naik ke atas. Syarat untuk itu ialah mengasah budi.Budi ialah tahu. Siapa yang tahu akan yang baik, tidak dapat lagi menyimpang dari itu. Siapa yang cinta akan idea, menuju kepda yang baik. Siapa yang hidup dalam dalam dunia idea, tidak dapat berbuat jahat. Jadinya jalan untuk mencapai budi yang baik ialah menanam keinsafan untuk memiliki idea dengan pikiran.
            Tanda dunia idea ialah tidak berubah-ubah, pasti dan tetap dan merupakan bentuk yang asal. Itulah yang membedakannya dari dunia yang nyata, yang berubah senantiasa. Dalam perubahan itu dapat ditimbulkan bentuk-bentuk tiruan daripada bangunan yang asal, dari dunia idea. Sebab itu ada dua jalan yang dapat ditempuh untuk melaksanakan dasar etik.
            Pertama, melarikan diri dalam pikiran dari dunia yang lahir dan hidup semata-mata dalam dunia idea. Kedua, mengusahakan berlakunya idea itu dalam dunia yang lahir ini. Dengan perkataan lain: melaksanakan “hadirnya” idea dalam dunia ini. Tindakan yang pertama merupakan suatu perbuatan yang ideal. Tindakan yang kedua kelihatan lebih riil.
            Kedua-dua jalan itu ditempuh oleh Plato. Pada masa mudanya, seperti tertera dalam bukunya Phedros, Giorgias, Thaetet dan Phaedon, ia melalui jalan pertama. Pelaksanaan etiknya didasarkannya pada memiliki idea besar-besarnya dengan menjauhi dunia yang nyata. Hidup diatur sedemikian rupa, sehingga timbul cinta dan rindu kepada idea.
            Plato mungkin merasai kemudian, bahwa ideal itu sukar melaksanakannya. Dalam bagian kedua dari hidupnya ia berpaling kepada jalan yang kedua. Sungguh pun bangunan-bangunan tiruan daripada idea jauh dari sempurna, sikap hidup diatur sedemikian rupa, supaya dunia yang lahir “ikut serta” pada idea. Cara itu dibentangkannya di dalam bukunya Republik, dengan menciptakan suatu negara ideal.
            Tetapi kedua tujuan etik itu yang berlainan jalannya, dalam konsepsi Plato bersatu kembali pada bidang agama, yang menekankan bahwa budi adalah tujuan untuk melaksanakan idea keadilan dalam penghidupan orang-seorang dan dalam negara sebagai badan kolektif.

4.      Negara Ideal
            Dalam buku Republik yang menjadi tujuan hidup Plato tergambar pendapatnya tentang pembinaan negara, masyarakat dan pendidikan. Plato hidup dalam masa Athena gilang-gemilang dalam segala lapangan. Pertentangan antara kaya dan miskin sangat menyolok mata. Karena itu pertentangan politik juga hebat. Kekuasaan aristokrasi, oligarki dan demokrasi datang berganti-ganti, dengan tidak dapat mendudukkan pemerintahan yang tetap. Menurut Plato nasib Athena hanya dapat tertolong dengan mengubah sama sekali dasar hidup rakyat dan sistim pemerintahan. Itulah alasan baginya untuk menciptakan bentuk suatu negara yang ideal.
            Pandangan Plato tentang negara dan luasnya masih terpaut pada masanya. Ia lebih memandang ke belakang dari ke muka. Negara Yunani, di masa itu ialah kota. Jumlah penduduknya tidak lebih daripada dua atau tiga ribu jiwa. Penduduk kota ialah orang-orang merdeka, yang mempunyai milik tanah terletak di luar kota yang dikerjakan oleh budak-budaknya. Di antara mereka terdapat saudagar, tukang, pandai seni dan pejabat negara. Menurut kebiasaan di waktu itu pekerjaan yang kasar dikerjakan oleh budak berlian. Mereka itu tidak dianggap sebagai penduduk sebab tidak merdeka.
            Dalam pandangan orang diwaktu itu kota adalah suatu badan yang menentukan. Karena kota itulah orang-seorang mendapat penghargaan atas dirinya. Kepentingan umum harus didahulukan dari kepentingan orang-seorang. Kepentingan bersama yang diwakili oleh negara adalah kepentingan yang setinggi-tingginya. Kemerdekaan kota lebih tinggi tingkatnya dari kemerdekaan orang-seorang. Kalau perlu kemerdekaan orang-seorang dibatasi untuk menyelamatkan kemerdekaan negara. Di antara kota-kota di Yunani, kota Sparta lah yang paling sosial sifatnya. Di situ terdapat hidup yang berdisiplin. Penduduknya makan bersama-sama. Anak laki-laki dan anak perempuan mendapat pendidikan yang sama. Perkawinan diatur oleh pemerintah. Anak-anak yang lumpuh dan bercacat dibunuh saja. Tugas masing-masing untuk kepentingan kota ditetapkan dengan peraturan. Sparta itulah yang diambil sebagai contoh oleh Plato untuk menggambarkan suatu negara yang ideal.
            Peraturan yang menjadi dasar untuk mengurus kepentingan umum, kata Plato tidak boleh diputus oleh kemauan atau pendapat orang-seorang atau oleh rakyat seluruhnya, melainkan ditentukan oleh suatu ajaran yang berdasarkan pengetahuan dengan pengertian. Dan ajaran itu datanglah keyakinan, bahwa pemerintahan harus dipimpin oleh idea yang tertinggi, yaitu kebaikan. Kemauan untuk melaksanakan itu bergantung kepada budi. Tujuan pemerintah yang benar ialah mendidik warga-negara mempunyai budi yang benar hanya dari pengetahuan. Dan karena itu ilmu harus berkuasa di dalam negara. Kesohor ucapan Plato yang mengatakan, bahwa kesengsaraan dunia tidak akan berakhir, sebelum filosof menjadi raja atau raja-raja menjadi filosof.
            Negara yang ideal harus berdasar pada keadilan. Tetapi apakah keadilan? Plato mengupas masalah keadilan itu dengan panjang lebar berupa percakapan, dialog antara Socrates dengan bebarapa kawannya. Seorang sofis bernama Thrasymachus mencoba memutuskan persoalan itu dengan mengatakan, bahwa kekuasaan adalah hukum dan keadilan adalah kepentingan golongan yang kuat. Berbagai pemerintah, baik yang demokrasi maupun yang aristokrasi, membuat undang-undang menurut kepentingan mereka masing-masing. Undang-undang yang melindungi kepentingan mereka itu dikemukakan kepada rakyat sebagai “adil” dan siapa yang melanggarnya dianggap “bersalah” dan dihukum. Tetapi kalau muncul seorang yang kuat, ia akan menghapuskan segala peraturan itu. Dia itu yang ingin hidup, membiarkan keinginannya berkembang. Tetapi kalau hawa nafsunya sudah mencapai puncaknya. Ia harus mempunyai keberanian dan akal untuk memuaskan segala keinginannya. Thrasymachus menganggap itu sebagai keadilan yang bisa dan sebagai ketinggian derajat. Tetapi orang banyak tidak dapat berbuat begitu. Sebab itu dicelanya orang yang semacam itu, karena mereka malu akan ketidakmampuan mereka yang ingin mereka sembunyikan. Tindakan orang itu disebutnya perkosa dan tidak bermalu. Mereka mengikat sifat yang berani dan memuji-muji keadilan karena mereka sendiri penakut.
            Gambaran dalam dialog ini menunjukkan pendapat sofis yang bersifat relatif, yang tidak disetujui oleh Socrates yang tujuannya mencari pengertian. Akhirnya Plato menyebut dalam suatu soal-jawab yang lain lagi, bahwa “keadilan adalah hubungan antara orang-orang yang bergantung kepada suatu oraganisasi sosial”. Sebab itu masalah keadilan itu dapat dipelajari dan struktur masyarakat. Oleh karena struktur masyarakat bergantung kepada kelakuan manusia, maka kelakuan manusia itulah yang harus dipatuhkan dengan pendidikan. Negara menurut Plato adalah manusa dalam ukuran besar. Kita tidak dapat mengharapkan negara jadi baik, apabila orang-seorang kelakuannya tidak bertambah baik.
Keadilan dalam negara hanya tercapai, apabila tiap-tiap orang mengerjakan pekerjaan yang terbentuk bagi dia. Keadilan bagi orang-seorang terdapat, apabila segala bagian daripada jiwanya, baik yang berkuasa maupun yang mengabdi, mengerjakan kerjanya sendiri-sendiri. Pembagian pekerjaan adalah dasar bagi Plato untuk mencapai perbaikan hidup. Berhubung dengan pembagian kerja itu Plato membagi penduduk negara dalam tiga golongan.
1)      Golongan yang bawah adalah golongan rakyat jelata, yang merupakan petani, pekerja, tukang dan saudagar. Kerja mereka ialah menghasilkan keperluan sehari-hari bagi ketiga-tiga golongan. Mereka itu merupakan dasar ekonomi bagi masyarakat. Karena mereka menghasilkan, mereka tidak boleh serta dalam pemerintahan. Sebagai golongan yang berusaha tidak boleh mempunyai hak milik dan harta, boleh berumah tangga sendiri. Mereka hidup dalam keluarga masing-masing. Sekalipun mereka bebas berusaha, budi mereka harus terasuh, yaitu budi pandai menguasai diri.
2)      Golongan tengah ialah golongan penjaga atau “pembantu” dalam urusan negara. Terhadap ke luar tugas mereka memepertahankan negara dari serangan musuh. Terhadap ke dalam tugasnya menjamin supaya undang-undang dipatuhi rakyat. Dasar kerjanya semata-mata mengabdi kepada negara. Oleh karena itu mereka tidak boleh mempunyai kepentingan diri sendiri. Mereka tidak boleh mempunyai harta perseorang dan keluarga. Mereka tinggal bersama dalam asrama, hidup dalam sistem komunisme yang seluas-luasnya, meliputi perempuan dan anak-anak. “Milik” bersama atas perempuan tidak berarti bahwa mereka dapat memuaskan hawa nafsu sesukanya. Hidup mereka didasarkan atas perbaikan jenis manusia dan hubungan mereka dengan perempuan diatur oleh negara dengan pengawasan yang rapi. Anak yang lahir dari hubungan mereka dipungut dan dididik oleh negara. Anak itu tak tahu siapa bapaknya dan siapa ibunya. Tiap-tiap ibu yang melahirkan anak dari penjaga dipandang ibu dari segala anak. Tiap-tiap anak memandang semua penjaga bapaknya. Semua anak yang lahir di situ mengaku satu sama lain bersaudara, kakak-beradik. Tiap orang laki-laki dipandang bapak, dan tiap orang perempuan ibu. Dengan begitu diharapkan akan timbul persaudaraan antara segala manusia. Hanya dengan hidup seperti itu kaum penjaga, menurut Plato-dapat membulatkan segala perhatiannnya kepada negara dan masyarakat. Laki-laki dan perempuan dapat pendidikan yang sama. Sebab itu juga data menjadi penjaga, menjadi ahli perang. Budi golongan ini ialah keberanian. Budi itu harus terdidik terus.
3)      Golongan atas ialah kelas kelas pemerintah atau filosof. Mereka terpilih dari yang paling cakap dan terbaik dari kelas penjaga, setelah menempuh pendidikan dan latihan spesial untuk itu. Tugas mereka ialah membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaanya. Mereka memangku jabatan yang tertinggi. Selain itu dari mereka mempergunakan waktu yang terluang untuk memperdalam filosofi dan ilmu pengetahuan tentang idea kebaikan, yang menjadi puncak dalam ajaran Plato. Mereka harus menyempurnakan budi yang tepat bagi golongan mereka: budi kebijaksaan.
Plato berpendapat bahwa dalam tiap-tiap negara segala golongan dan segala orang-orang seorang adalah alat semata-mata untuk kesejahteraan semuanya. Kesejahteraan semuanya itulah yang menjadi menjadi tujuan yang sebenarnya. Dan itu pulalah yang menentukan nilai pembagian pekerjaan. Dalam negara yang ideal itu golongan pengusaha menghasilkan, tetapi tidak memerintah. Golongan penjaga melindungi, tetapi tidak memerintah. Golongan cerdik pandai diberi makan dan dilindungi, dan mereka memerintah.
Ketiga macam budi yang dimiliki oleh masing-masing golongan, yaitu bijaksana, berani, dan menguasai diri dapat menyelenggarakan dengan kerjasama budi keempat bagi masyarakat, yaitu keadilan. Oleh karena negara ideal tergantung kepada budi penduduknya, pendidikan menjadi urusan yang terpenting bagi negara. Menurut Plato, pendidikan anak-anak dari umur 10 tahun ke atas menjadi urusan negara, supaya mereka terlepas dari pengaruh orang tuanya. Dasar yang terutama bagi pendidikan anak-anak ialah gimnastik (senam) dan musik. Tetapi gimnastik didahulukan. Gimnastik menyehatkan badan dan pikiran. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang berani, yang diperlukam bagi seorang penjaga. Di samping itu diberikan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung beberapa perlunya. Dari umur 14 sampai 16 tahun kepada anak-anak diajarkan musik dan puisi serta mengarang bersajak. Musik menanam dalam jiwa manusia perasaan yang halus, budi yang halus. Karena musik jiwa kenal akan harmoni dan irama. Kedua-duanya adalah landasan yang baik untuk menghidupkan rasa keadilan. Tetapi dalam pendidikan musik harus dijauhkan lagu-lagu yang melemahkan jiwa serta yang mudah menimbulkan nafsu buruk. Begitu juga tentang puisi. Puisi yang merusak moral disingkirkan. Pendidikan musik dan gimnastik harus sama dan seimbang.
Dari umur 16 sampai 18 tahun anak-anak yang menjelang dewasa diberi pelajaran metematik untuk mendidik jalan pikirannya. Di sebelah itu diajarkan pula kepada mereka dasar-dasar agama dan  adab sopan, supaya di kalangan mereka tertanam rasa persatuan. Plato mengatakan, bahwa suatu bangsa tidak akan kuat, kalau ia tidak percaya pada Tuhan: Seni yang memurnikan jiwa dan perasaan Yang Baik dan Yang Indah, diutamakan mengajarkannya. Pendidikan ini tidak saja menyempurnakan pandangan agama, tetapi juga mendidik dalam jiwa pemuda kesediaan berkurban dan keberanian menentang maut. Dari umur 18 sampai 20 tahun pemuda mendapat didikan militer.
Pada umur 20 tahun diadakan seleksi yang pertama. Murid-murid yang maju dalam ujian itu mendapat didikan ilmiah yang mendalam dalam bentuk yang lebih teratur. Pendidikan otak, jiwa, dan badan sama beratnya. Setelah menerima pendidikan ini 10 tahun lamanya datanglah setelah yang seleksi yang pertama. Yang jatuh dapat diterima sebagai pegawai negeri. Yang jatuh dapat diterima sebagai pegawai negeri. Yang maju dan sedikit jumlahnya meneruskan pelajarannya 5 tahun lagi dan dididik dalam ilmu pengetahuan tentang adanya ajaran tentang idea dan dialektik. Setelah tamat pelajaran itu, mereka dapat memangku jabatan yang lebih tinggi. Kalau mereka sudah 15 tahun bekerja dan mencapai umur 50 tahun, mereka diterima masuk dalam lingkuangan pemerintah atau filosof. Pengetahuan dan pengalaman mereka dalam teori dan praktik sudah dianggap cukup untuk melaksanakan tugas yang tertinggi dalam negara: menegakkan keadilan berdasarkan idea kebaikan.
Plato sadar benar, bahwa konsepsinya itu hanya merupakan suatu “gambaran asal”, sebagaimana idea lainnya. Seperti ternyata dalam pengalaman idea itu tidak dapat dicapai seluruhnya, hanya dapat didekati. Dalam buku yang dikarangnya kemudian, hukum, berbagai segi yang yang pokok yang dikemukakan di dalam Republik diperlemahnya. Milik bersama atas segala harta dan kerjasama ekonomi yang sebulat-bulatnya hanya mungkin bagi dewa-dewa dan anak-anak dewa. Milik perseorangan dibolehkan, tetapi kemiskinan dan pertumpukan harta di satu tangan harus dilarang.
Banyak pengarang yang menamakan ciptaan Plato itu suatu sistem sosialisme. Tetapi jika ditinjau benar-benar, negara idealnya itu hanya merupakan negara sosial yang tujuannya menghilangkan kemiskinan dan menegakkan keadilan. Pelaksanaan komunisme hanya dalam kalangan penjaga yang jumlahnya kira-kira 5% dari seluruh penduduk. Masyarakat yang bertingkat bukanlah sosialisme.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar