Plato dilahirkan pada
tahun 427 SM di Athena. Nama Plato yang sebenarnya adalah Aristocles (Plato adalah nama panggilan yang
didasarkan pada fisik luarnya). Namanya bermula adalah Aristocles, nama Plato
kemudian diberikan oleh gurunya saat ia bermain senam, ia memperoleh nama baru
itu berhubung dengan bahunya yang lebar. Sepadan dengan badannya yang tinggi
dan tegap. Raut mukanya, potongan tubuhnya serta parasnya yang elok bersesuaian
benar dengan ciptaan klasik tentang manusia yang cantik. Bagus dan harmoni
meliputi seluruh perawakannya.
Dalam tubuh besar dan sehat itu bersarang pula pikiran yang dalam dan menembus. Pandangan matanya menunjukkan seolah-olah ia mau mengisi dunia yang lahir ini dengan cita-citanya. Ia berasal dari keluarga Aristokrasi yang turun-temurun memegang peranan penting dalam politik Athena. Ia pun bercita-cita sejak mudanya untuk menjadi orang negara. Tetapi perkembangan politik pada masanya tidak memberikan kesempatan padanya untuk mengikuti jalan hidup yang diinginkannya itu.
Pelajaran
yang diperolehnya dimasa kecilnya, selain dari pelajaran umum, ialah menggambar
dan melukis, disambung dengan belajar musik dan puisi. Sebelum dewasa ia sudah
pandai membuat karangan yang bersajak.
Sebagaimana
bisanya dengan anak orang baik-baik di masa itu Plato mendapat
didikannya dari guru-guru filosofi. Pelajaran filosofi mula-mula diperolehnya
dari Kratylos. Kratylos dahulunya murid Herakleitos yang mengajarkan “semuanya berlalu”
seperti air. Rupanya ajaran semacam itu tidak hinggap di dalam kalbu anak
Aristokrat yang terpengaruh oleh tradisi keluarganya.
Filsuf
Yunani yang dikabarkan
terlahir dikalangan “keluarga terhormat”, ayahnya Ariston, disebut-sebut sebagai titisan Dewa Poseidon. Ayahnya adalah keturunan
dari raja pertama Athena yang berkuasa
pada abad ke-7 SM. Sementara ibunya, Perictions adalah keturunan keluarga Solon,
seorang pembuat undang-undang, penyair, memimpin militer dari kaum ningrat dan
pendiri dari demokrasi Athena terkemuka.
Sewaktu berumur
20 tahun, Plato menghadiri
ceramah Socrates dan memutuskan
untuk menghabiskan waktu menekuni filsafat dan menjadi murid Socrates yang
dapat memberi kepuasan sepenuhnya pada hasratnya terhadap pengetahuan dan
kebijaksaan. Pengaruh Socrates semakin hari semakin mendalam padanya. Ia
menjadi murid Socrates yang setia, sampai pada akhir hidupnya Socrates tetap
menjadi pujaannya. Dalam segala karangannya yang selalu berbentuk dialog,
bersoal-jawab, Socrates didudukannya sebagai pujangga yang menuntun. Dengan
cara begitu ajaran Plato tergambar keluar melalui mulut Socrates. Juga setelah
pandangan filosofnya sudah jauh menyimpang dan sudah lebih lanjut dari pendapat
gurunya, ia terus berbuat begitu. Socrates digambarkannya sebagai jurubahasa
isi hati rakyat di Athena yang tertindas
karena kekuasaan yang saling berganti. Kekuasaan demokrasi yang meluap menjadi
anarki dan sewenang-wenang digantikan berturut-turut oleh kekuasaan seorang
tiran dan oligarki yang akhirnya membawa Athena lenyap ke bawah kekuasaan
asing.
Plato memiliki
kedudukan yang istimewa sebagai filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu,
seni dan filosofi. Pandangan yang dalam dan abstrak sekalipun dapat dilukiskannya dengan
gaya bahasa yang indah. Tidak ada seorang
filosof sebelumnya dapat menandingi dalam hal ini. Juga sesudahnya tak ada.
Hukuman yang ditimpakan itu dipandangnya suatu perbuatan zalim-meminum racun-
besar sekali pengaruhnya atas pandangan hidup Plato. Socrates dimatanya adalah seorang yang
sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya, orang yang tak pernah berbuat salah.
Hukuman yang ditimpakan itu dipandangnya suatu perbuatan zalim semata-mata yang
dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ia sangat sedih dan
menanamkan dirinya seorang anak yang kehilangan bapak. Ia sedih, tetapi terpaku
pada karena pendirian Socrates yang menolak kesempatan yang diberikan untuk
melarikan diri dari penjara, dengan memperingatkan ajarannya: “lebih baik
menderita kezaliman daripada berbuat zalim”.
Tak lama
setelah Socrates meninggal,
Plato pergi dari
Athena. Itulah permulaan ia mengembara dua belas tahun
lamanya, dari tahun 399-387SM. Mula-mula ia pergi ke Megara, tempat Euklides mengajarkan
filosofinya. Beberapa lama ia di sana, tidak diketahuia betul. Ada cerita yang
mengatakan bahwa ia di situ mengarang beberap dialog, yang mengenai berbagai
macam pengertian dalam masalah hidup berdasarkan ajaran Socrates.
Dari Megara ia pergi ke Kyrena, di mana ia memperdalam pengetahuannya tentang matematika pada seorang
guru yang bernama Theodoros. Di sana ia juga mengajarkan filosofis dan mengarang buku-buku.
Kemudian ia
pergi ke Italia Selatan dan terus ke
Sirakusa di Pulau
Sisilia, yang pada waktu itu diperintah oleh seorang tiran,
yang bernama Dionysios. Dionysios mengajak Plato tinggal di
istananya. Ia merasa bangga, kalau di antara orang-orang yang mengelilinginya
terdapat pujangga dunia dari Yunani yang tersohor namanya. Di situ Plato
berkenalan dengan ipar raja Dionysios yang masih muda bernama Dion, yang akhirnya menjadi sahabat karibnya. Di antara mereka berdua terdapat
kata sepakat, supaya Plato memengaruhi Dionysios dengan ajaran filosofinya,
agar tercapai sebuah perbaikan sosial. Seolah-olah terasa oleh Plato bahwa suatu kesempatan
yang baik sudah datang baginya untuk melaksanakan teorinya tentang pemerintahan
yang baik dalam praktik. Sudah lama tertanam di dalam kalbunya, bahwa
kesengsaraan di dunia tidak akan berakhir, sebelum filosof menjadi raja atau
raja-raja menjadi filosof. Tetapi ajaran Plato yag dititikberatkan kepada
pengertian moral dalam segala perbuatan, lambat laun menejmukan Dionysios.
Dengan
tuduhan, bahwa Plato berbahaya bagi
kerajaannya, Plato disuruhnya untuk ditangkap dan dijual sebagai budak. Nasib
yang baik bagi Plato, di pasar budak ia dikenal oleh seorang bekas muuridnya,
Annikeris dan ditebusnya. Kemudian peristiwa ini oleh sahabat-sahabat dan
pengikut-pengikut Plato di Athena. Mereka bersama-sama untuk mengumpulkan uang untuk mengganti harga penebus
yang dibayar oleh Annikeris. Tetapi dia menolak penggantian itu dengan
kata-kata: ”bukan tuan-tuan saja yang mempunyai hak untuk memlihara seorang
Plato”. Akhirnya uang yang terkumpul itu dipergunakan untuk membeli sebidang
tanah yang diserahkan kepada Plato untuk dijadikan lingkungan sekolah tempat ia
mengajarkan filosofinya. Di situ didirikan rumah sekolah dan pondok-pondok yang
dihiasi sekitarnya dengan kebun yang indah. Tempat itu diberi nama “Akademia”.
Di situlah Plato, sejak berumur 40 tahun, pada tahun 387SM sampai meninggalnya
dalam usia 80 tahun, mengajarkan fiosofinya dan mengarang tulisan-tulisan yang
kesohor sepanjang masa. Akademi itu hampir sama dengan komunitas Pythagoras, sejenis perkumpulan semi-agama yang menjadi tempat para pemuda kaya
mempelajari matematika, astronomi, hukum, dan tentunya filsafat. Tempat belajar
tersebut gratis dan menggantungkan seluruhnya pada bantuan. Untuk membenarkan
keidealannya, Plato juga mengizinkan wanita untuk belajar di sana. Akademi
itupun menjadi pusat belajar rakyat Yunani selama hampir satu milenium.
Cara Plato mengajar ialah
berjalan-jalan di kebun, juga dalam mengajar seperti itu ia teruskan sistim
dialog, bersoal-jawab, seperti yang dikemukakan Socrates. Kadang-kadang pada sekelompok murid dikemukakannya suatu soal yang akan
dipecah bersama-sama dengan bersoal-jawab oleh mereka. Lantas ia berjalan ke
kelompok lain dengan mengemukakan pula sebua soal yang harus mereka
perbincangkan bersama-sama. Akhirnya Plato kembali kepada kelompok yang pertama
untuk mendengar jawaban mereka atas soal yang diajukan tadi. Demikianlah
seterusnya ia berkeliling.
Mereka
memberi uraian dari mengajar filosofi berdasarkan dialog, bersoal-jawab, adalah
kerja Plato yang terutama
di Akademia itu. Hanya dalam waktu luang ia mencurahkan pikirannya pada karang-mengarang
tentang berbagai masalah yang ditinggalkannya berupa tulisan.
Pada tahun
367SM setelah Plato 20 tahun
menetap di Akademia, diterimanya undangan dan desakan dari Dion untuk datang ke Sirakusa. Dionysios yang jahat
sudah meninggal. Ia digantikan sebagai raja oleh anaknya dengan nama Dionysios
II. Dion berharap, supaya Plato dapat mendidik dan mengajarkan kepada raja yang
masih muda itu “pandangan filosofi tentang kewajiban pemerintah menurut Plato”.
Tertarik oleh cita-citanya untuk melaksanakan teori pemerintahannya di dalam
praktik, Plato berangkat ke Sirakusa. Ia disambut oleh raja dengan gembira.
Tetapi bagi raja itu, filosofi tidak begitu menarik dan pada saat itu fitnah,
hasutan merajarela dalam istana itu. Akhirnya Dion dibenci oleh raja dan
dibuang ke luar Sisilia. Segala usaha
Plato untuk membelanya tidak berhasil. Dia sendiri dengan bersusah payah
baru dapat kembali ke Athena.
Tetapi enam
tahun kemudian, pada tahun 361SM, hati Plato terpikat lagi
untuk datang ketiga kalinya ke Sirakusa. Raja Dionysios II memandang
sebagai suatu kehormatan, apabila seorang filosof yang begitu kesohor berada di
dalam istananya, dengan maksud itu diundangnya Plato ke Sirakusa. Plato datang
ke Sirakusa dengan niat untuk mendamaikan petentangan antara Raja Dionysios II
dengan sahabatnya Dion dan berusaha
supaya dia boleh pulang kembali ke Sirakusa, tetapi usahanya itu tidak
berhasil. Harapannya untuk mencoba sekali lagi melaksanakan cita-citanya
tentang pemerintahan yang baik dalam praktik gagal kembali. Dengan kesabaran
hati seorang filosof ia kembali ke Akademia sebagai guru dan pengarang.
Seorang
filosof menulis tentang dia sebagai berikut: “Plato pandai berbuat.
Ia dapat belajar seperti Solon dan mengajar seperti Socrates. Ia pandai mendidik pemuda yang ingin belajar dan dapat memikat hati dan
perhatian sahabat-sahabat pada dirinya. Murid-muridnya begitu sayang padanya
seperti ia sayang kepada mereka. Dia itu bagi mereka adalah guru, sahabat dan
penuntun”.
Tatkala
seorang muridnya merayakan perkawinannya, Plato yang sudah
berumur 80 tahun datang juga pada malam perjamuan itu. Ia turut riang dan
gembira. Setelah agak larut malam, ia mengundurkan diri kepada suatu sudut yang
sepi dalam rumah itu. Di sana ia tertidur dan tidur untuk selama-lamanya dengan
tiada bangkit lagi. Esoknya seluruh Athena mengantarkannya ke kubur.
Plato tidak pernah
kawin dan punya anak, keponakannya Speusippos menggantikannya mengurus
Akademia.
1.
Karya Plato
Tulisan
Plato hampir
rata-rata berbentuk dialog. Jumlahnya tidak kurang dari 34 buah. Belum dihitung
lagi tulisannya yang berupa surat dan puisi. Yang sukar ialah menentukan waktu
karangannya. Semuanya ditulisnya dalam masa lebih dari setengah abad. Tetapi
bagaimana urutan terbitnya? Sungguh pun kebanyakannya berdasar atas
idea,cita-cita yang tertinggi, idea kebaikan, pokok pendirian dalam
dialog-dialog itu tidak serupa semuanya. Ia mungkin berlain-lain menurut
masalah dan waktu. Ada ahli yang memahamkan perbedaan-perbedaan itu sebagai
kemajuan dalam pikiran Plato. Kemajuan pikiran itu tidak mengherankan, melihat
lamanya ia mengasah pikirannya dengan filosofi.
Ada
dua pendapat yang terkemuka tentang cara memahamkan buah tangan Plato yang sebanyak
itu. Yang pertama cara metodik yang dikemukakan oleh FR. Schleiermacher dalam kata pendahuluan bukunya, yang
berisikan terjemahan dialog-dialog Plato ke dalam bahasa Jerman (1804-1810 dan
1828). Yang kedua cara genetik, mengikuti perkembangan yang dikemukakan oleh
Carl Friedrich Hermann dalam bukunya tentang “Sejarah dan Sistim Filosofi
Plato”,terbit pada tahun1839.
Schleiermacher mengatakan bahwa ketegasan kata
plato tidak dapat diketahui dari tulisannya saja. Bagian terbesar dari pendapat
yang dikemukakannya waktu mengajarkan filosofinya. Suatu kenyataan yang tidak
dapat dibantah ialah bahwa ajaran yang dibentangkannya kepada pembacanya sudah
dipahamkannya benar-benar. Jadi cara ia mengajarkan itu berdasar atas suatu
rencana metodik. Mula-mula disiapkannya pembacanya dengan pengetahuan yang
elementer. Kemudian diajaknya pembacanya memikirkan hal-hal itu seterusnya
dengan jalan dialektik, hingga akhirnya pikirannya matang tentang masalah itu.
Dalam tulisan-tulisannya yang konstruktif sekali, seperti Dialoge, Republik,
dan Timaios, terdapat pelajaran sepenuhnya tentang masalah yang terakhir.
Hermann
tidak begitu pendapatnya. Ia mengatakan bahwa dari tulisan-tulisan Plato dapat diikuti
perkembangan pikirannya sendiri. Ia bermula pada yang kecil kemudian maju
sampai pada yang besar.
Tetapi
betapa juga berbeda pendirian tentang menangkap buah pikiran Plato, tentang menentukan urutan tulisan dialognya ada
persamaan pendapat.Segala yang ditulisnya itu dapat ditempatkan ke dalam empat
masa, tiap-tiap masa mempunyai karakteristiknya sendiri.
Pertama,
karangan-karangan yang ditulisnya pada masa mudanya yaitu waktu Socrates masih hidup sampai tak lama sesudah
ia meninggal. Buku-bukunya yang diduga ditulis dalam masa itu ialah Apologie, Kriton, Ion, Protagoras,
Laches,Politeia Buku I, Lysis,
Charmides dan Eutyphron.
Dalam
seluruh dialog itu Plato tetap berpegang
pada pendirian gurunya Socrates. Dalam buku-buku itu tidak tidak terdapat buah pikiran Plato yang timbul
kemudian yang menjadi corak filosofinya, yaitu ajaran tentang idea. Cita-cita
yang sangat dikemukakannya dalam segala tulisan di masa itu ialah pembentukan
pengertian dalam daerah etik. Misalnya soal-jawab tentang keberanian dalam Laches, soal-jawab tentang keadilan
dalam Politeia Buku I dengan tiada
menetapkan kata keputusan. Dalam tulisannya yang berkepala Protagorus tajam sekali dikemukakan pertentangan ajaran kaum sofis
dengan Socrates. Tujuan daripada uraian dengan bersoal-jawab di situ ialah
untuk menegaskan pendapat Socrates bahwa budi itu dapat dipelajari dan budi itu
pokoknya satu. Dari cara ia menguraikan persoalan itu dapat diduga , bahwa
tulisan itu ditulis sebelum Socrates meninggal.
Kedua, buah tangan
yang ditulisnya dalam masa yang terkenal sebagai “masa peralihan”.Masa itu
disebut juga masa Megara, yaitu waktu Plato tinggal
sementara di situ. Dialog-dialog yang diduga ditulisnya dalam masa itu ialah Gorgias, Kratylos, Menon,
Hippias dan
beberapa lainnya. Persoalan yang diperbincangkan di situ kebanyakan mengenai
pertentangan politik dan pandangan hidup yang dikemukakannya dengan kata-kata
yang bagus tetapi bersemangat. Pertentangan antara ajaran kaum sofis dan
pendapat Socrates diuraikan
dengan ucapan-ucapan yang lebih tajam. Plato mengecam retorika dengan
sehebat-hebatnya, berhubung dengan nihilisme politik dan sosial kaum sofis.
Dialog Giorgias terutama dipergunakannya untuk itu. Meluapnya semangat dan
tajamnya kata-kata kritik menujukkan , bahwa dialog ini ditulis tak lama
sesudah Socrates meninggal.
Dalam masa
peralihan itu sudah terbayang perkembangan pikiran Plato keluar garis
Socrates. Pada ajaran Socrates yang mencari pengertian,
disambungkan pendapat filosofi sebelumnya, terutama pendirian orfisisme dan
Phytagoras. Dalam beberapa dialog tergambar pendapat Plato tentang hidup
sebelum lahir ke dunia dan tentang jiwa yamg hidup selama-lamanya. Di sini
terdapat permulaan pikirannya ke jurusan idea, yang kemudian menjadi pusat
pandangan filosofisnya.
Ketiga, buah tangan
yang disiapkannya di masa matangnya. Tulisannya yang terkenal pada waktu itu
dan kesohor sepanjang masa ialah Phaidros,
Symposion, Phaidon dan Politeia Buku
II-X. Ajaran tentang idea menjadi pokok pikiran Plato dan menjadi
dasar bagi teori pengetahuan, metafisika, fisika, psikologi, etik, politik dan
estetika. Terutama dalam Phadros
terang ternyata perkembangan pikiran ini. Berdasarkan pandangan agama, yang
terpengaruh oleh ajaran orfisisme dan Phytagoras, ia menggambarkan sifat dan
nasib jiwa manusia. Jiwa itu senantiasa melayang antara tempat tinggalnya yang
ada di langit dan tubuh-tubuh yang ada di dunia ini. Tarikan untuk bergerak ke
alam yang tidak kelihatan itu ialah cinta (Eros)
yang sebenarnya. Dan itulah intisari dari sebuah filosofi.
Penyudahan
buku Politeia (Republik) yang mulai
dikarangnya dalam masa mudanya dan yang menjadi tujuan kerjanya yang terutama,
terjadi dalam masa ini. Dalam buku pertama diperbincangkan: Apa yang disebut
keadilan? Dalam buku sambungnya itu Plato menyudahkan
gambaran pendapatnya tentang negara yang ideal. Dalam buku Politeia ini yang diciptakan dari masa ke masa, tergambar
perkembangan filosofinya, dari mencari penetapan tentang pengertian sampai pada
memahamkan keadaan dalam dunia yang lahir dari jurusan idea yang kekal.
Keempat, buah
tangan yang ditulisnya pada hari tuanya .Dialog-dialog yang dikarangnya di masa
itu sering disebut Theaitetos,
Parmenides, Sophistos, Politikos, Philibos, Timaios, Kritias dan Nomos. Tetapi ada ahli yang menyangsikan
keaslian beberapa dialog itu. Apakah dialog no.2,3,4 dan 5 dalam urutan ini
benar-benar ditulis oleh Plato, mungkin dialog-dialog itu dikarang oleh murid-muridnya
berdasarkan uraian dan pelajaran yang diberikannya.
Ada suatu
perubahan nyata dalam suatu uraiannya pada masa itu. Idea, yang bisanya
meliputi seluruhnya, terletak sedikit ke belakang. Kedudukan logika lebih
terkemuka. Perhatian kepada keadaan yang lahir dan kejadian dalam sejarah
bertambah besar. Untuk memahamkan isi Timaios
seluruhnya orang harus mempunyai pengetahuan lebih dahulu tentang imu-ilmu
spesial, terutama ilmu alam dan ilmu kesehatan. Dengan uraian yang terbentang
di dalam dialog itu Plato membawa
pembacanya ke daerah kosmologi dan filosofi alam. Dialog itu menunjukkan bahwa
Plato bukan saja seorang filosof yang menguasai seluruh filosofi Yunani sebelumnya, tetapi mempelajari juga
ilmu spesial yang diketahui pada masanya. Dalam pikirannya itu semuanya
tersusun ke arah satu tujuan. Tamaios
boleh dikatakan suatu ajaran teologi tentang lahirnya dunia dan pemerintahan
dunia.
Dalam Timaios terdapat suatu paduan antara
filosofi Elea dan filosofi Herakleitos pada tingkat yang lebih tinggi.
Seperti dalam dialog yang dulu-dulu Plato tetap memisah
antara Adanya, satu-satunya yang
dapat menjadi objek pengetahuan dasar pikiran dan yang menjadi senantiasa, yang menjadi pokok pandangan yang
menimbulkan penglihatan dan uraian yang tidak tepat. Yang adanya yang tetap dan
kekal adalah bentuk asal,idea. Dan Idea itulah yang menjadi pedoman bagi Tuhan
untuk membangun dunia ini.
Paham Plato tentang
pembentukan dunia ini berdasar pada pendapat Empedokles, bahwa alam ini
tersusun dari empat anasir yang asal, yaitu api, udara, air dan tanah. Tetapi
tentang proses pembangunan seterusnya berlainan pendapatnya. Menurut Plato Tuhan
sebagai pembangun alam menyusun anasir yang empat itu dalam berbagai bentuk
menjadi satu kesatuan. Ke dalam bentuk yang satu itu Tuhan memasukkan jiwa
dunia yang akan menguasai dunia ini. Karena itu pembangunan dunia itu sekaligus
menentukan sikap hidup manusia dalam dunia ini.
Sepadan
dengan itu pendapat Plato dalam Nomoi (hukum). Di situ terdapat uraian
yang panjang lebar tentang syarat-syarat hidup bernegara. Dari berbagai tulisan Plato pada masa
tuanya itu tampak pula, bahwa pengaruh Phytagoras tentang hidup santer
bertambah besar atasnya. Dalam suatu lukisan mitos digambarkannya suatu cara
membersihkan jiwa, sifat hukuman balasan atas perbuatan dan perihal hidup
sesudah mati.
Hampir semua
dialog yang dikarang Plato adalah campuran
antara filosofi, puisi, ilmu dan seni. Dan uraiannya yang berupa percakapan
dengan bersoal-jawab itu dibungainya pula dengan kata-kata sindiran, ironi dan
kiasan serta dongeng yang berisikan teladan. Fakta dan mitos kadang-kadang bercampur-baur
dalam lukisan ceritera bertukar pikiran. Sebab itu orang tak mudah mengerti apa
yang dimaksudnya, sekalipun gaya katanya indah sekali. Hanya ahli-ahli yang
kenal kesusastraan Yunani lama dan
mengetahui tentang keadaan sosial dan pandangan
agama di situ pada waktu itu, dapat menangkap maksudnya yang sebenarnya. Tetapi
tujuan filosofinya terang. Dengan pengertian yang dalam tentang bangsa dan
masanya Plato mencari dasar baru untuk perbaikan. “Jauh daripada mencari
kesenangan rohani dengan buta memandang dunia ke atas- kata Windelband
dicarinya dari situ ideal hidup baru untuk mengubah kenyataan yang lama. Dengan
keberanian yang luar bisa ia berjuang menentang yang berkuasa di dunia dan
berusaha dengan sepenuh jiwa untuk memperbaiki dunia dan menobatkannya”.
2.
Tentang Idea
Dalam ajaran
filosofi Plato bertaut segala
filosofi Yunani yang
dibentangkan sebelumnya. Ajaran Herakleitos yang bertentangan dengan ajaran
Permenides, pendapat kaum sofis yang bertentangan dengan Socrates mencapai sintesenya,
penggabungannya, pada tingkat yang tinggi.
Intisari
daripada filosofi Plato ialah
pendapatnya tentang idea. Itu adalah suatu ajaran yang sangat sulit memahamkannya. Salah satu sebab
ialah bahwa pahamnya tentang idea selalu berkembang. Bermula idea itu
dikemukakannya sebagai teori logika. Kemudian meluas menjadi pandangan hidup,
menjadi dasar umum bagi ilmu dan politik sosial dan mencakup
pandangan agama.
Dalam
filosofi sebelum Socrates sering terdapat
persoalan dan pertentangan sekitar masalah Adanya. Bagaimana kedudukan Adanya
itu dianggap satu dan tetap terhadap yang banyak dan yang berubah-ubah
senantiasa? Plato meninjau lebih
dalam dengan mengemukakan pertanyaan: “Apakah yang disebut Adanya?”, apakah
kita tidak perlu mempunyai pengertian yang tepat lebih dahulu tentang Adanya.
Sebelum mempersoalkan dengan apa ia sama, mana dan berapa bagiannya? Memang,
Socrates telah mulai filosofinya dengan mancari pengertian tentang itu: apa
yang disebut berani, apa yang dikatakan berpaham, apa keadilan, apa adanya
kebaikan? Jalan yang ditempuhnya untuk memperoleh pengertian itu ialah jalan
induktif, bertanya kepada tiap-tiap orang yang bersoal tentang itu. Pengertian
yang umum tentang apa yang disebut berani, berpaham, keadilan dan keadilan
hendak dicapai dari pendapat-pendapat orang banyak.
Plato meningkat lebih
tinggi. Ia memajukan lebih dahulu pengetahuan yang pokok. Ia bertanya, apakah
yang disebut adanya selama-lamanya, tetapi tak pernah ada?.Yang pertama
dipahamkan dengan kecerdasan berpikir, menyatakan yang tetap dan tinggal serupa
selama–lamanya. Yang satu lagi dikatakan hasil daripada pandangan yang teliti,
melihat timbul dan hilang, tetapi sebenarnya tak pernah ada.
Di sini
Plato memisah
kenyataan yang kelihatan dalam alam yang lahir, di mana berlaku pandangan
Herakleitos dan alam
pengertian yang abstrak di mana berlaku
pandangan Permenides.Dalam bidang yang pertama yang ada hanya kiraan. Sebab
kalau semuanya mengalir dengan tidak berhenti-hentinya, tiap barang bagi tiap
orang pada setiap waktu hanya berupa seperti yang terbayang dimukanya. Maka
manusia menjadi ukuran dari segalanya, seperti dikatakan oleh Phytagoras.
Tetapi pengetahuan dapat memberikan apa yang tetap adanya, yaitu idea.
Pengertian
yang dikemukakan oleh Socrates, diperdalam oleh Plato menjadi idea.
Idea itu lain sekali hubungannya dengan pendapat orang-orang. Berlakunya idea
itu tidak bergantung kepada pandangan dan pendapat orang banyak. Ia timbul
semata-mata dari kecerdasan berpikir. Pengertian yang dicari dengan pikiran
ialah idea, Idea pada hakikatnya sudah ada. Tinggal mencarinya saja lagi.
Pokok
tinjauan filosofi Plato ialah mencari
pengetahuan tentang pengetahuan. Ia bertolak dari ajaran gurunya Socrates yang mengatakan,” budi ialah tahu”.
Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan
sebagai dasar filosofi. Pertentangan antara pikiran dan pandangan menjadi
ukuran bagi Plato. Pengertian yang mengandung di dalamnya pengetahuan dan budi
yang dicarinya bersama-sama dengan Socrates pada hakekatnya dan asalnya
berlainan sama sekali dari pemandangan. Sifatnya tidak diperoleh dari
pengalaman. Pemandangan hanya alasan untuk menuju pengertian. Ia diperoleh atas
usaha akal sendiri.
Kalau kita
melihat seekor kuda yang bagus atau seorang perempuan yang cantik, penglihatan
itu hanya mengingatkan kita dalam keinsafan kita pengertian bagus yang
sebenarnya yang tidak seluruhnya tergambar pada kuda yang bagus itu atau
perempuan yang cantik. Pengertian bagus yang sebenarnya bukanlah pula kumpulan
segala yang bagus yang kelihatan pada benda-benda. Terhadap segala yang
dipandang itu idea merupakan suatu ideal, cita-cita. Bangunan yang tampak
dengan pandangan tidak lain daripada tiruan akan gambaran yang tidak sempurna
daripada bangunan yang sebenarnya dalam pengertian, ia serupa tapi tak sama.
Pendapat ini
diteruskan oleh Plato ke dalam daerah
filosofi bahasa. Kata-kata tidak pernah menggambarkan pengertian yang sebenarnya. Ambil
misalnya pembicaraan antara dua orang. Apa sebab mereka saling mengerti?
Bagaimana pendapat mereka tentang sesuatu pengertian bisa serupa atau berbeda?
Kata tak lain daripada bunyi. Bagaimana kata itu bisa mempunyai arti?
Pendengaran bunyi kata itu tidak menentukan maksud kata yang terdengar itu.
Kata-kata sebagai bunyi hanya merupakan simbol daripada sesuatunya yang
terletak di belakangnya, kata itu hanya mengingatkan dalam keinsafan kita bahwa
ada yang bersembunyi di belakangnya. Hanya pikiran dapat menangkap logika yang
tepat daripada hubungan kata-kata itu. Berpikir dan mengalami adalah dua
macam jalan yang berbeda untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang dicapai
dengan berpikir lebih tinggi nilainya dari pengetahuan yang diperoleh dengan
pengalaman.
Sekarang
bagaimana hubungan antara pikiran dan pengalaman?Untuk menggambarkannya Plato melahirkan dua
macam dunia, yaitu dunia yang kelihatan dan bertubuh dan dunia yang tidak
kelihatan dan tidak bertubuh. Dunia yang kelihatan dan bertubuh adalah dunia
yang lahir terdiri dari barang-barang yang dapat kita lihat dan alami, yang
berubah senatiasa menurut benda dan waktu. Dunia yang tidak kelihatan dan tidak
bertubuh adalah dunia daripada idea. Dunia yang imateriil, tetap dan tidak
berubah-ubah.
Idea menurut
paham Plato tidak saja
pengertian jenis, tetapi juga bentuk daripada keadaan yang sebenarnya. Idea
bukanlah suatu pikiran, melainkan suatu realita. Pendapat Plato tentang dunia
yang tidak bertubuh merupai pendapat Parmenides tentang Adanya yang satu, kekal
dan tidak berubah-ubah. Tetapi yang baru dari ajaran Plato ialah pendapatnya
tentang suatu dunia yang imateriil, dunia yang tidak bertubuh. Filosofi Yunani sebelum dia tidak mengenal gambaran
dunia semacam itu. Juga Adanya dalam pikiran Parmenides yang mengisi ruang
sepenuh-penuhnya, sehingga di sebelah Adanya tidak ada lagi tempat yang kosong,
masih merupakan sesuatu yang tidak bertubuh.
Dunia yang
bertubuh adalah dunia yang dapat diketahui dengan pandangan dan pengalaman.
Dalam dunia itu semuanya bergerak dan berubah senantiasa, tidak ada yang tetap
dan kekal. Dari pandangan dan pengalaman saja tidak pernah tercapai pengetahuan
pengertian. Berhadapan dengan itu terdapat dunia yang tidak bertubuh daripada
idea, yang lebih tinggi tingkatnya dan menjadi objek dari pengetahuan
pengertian. Apabila pengertian yang dituju itu memperoleh bentuknya yang tepat,
ia tidak berubah-ubah lagi dan bertempat di dalam dunia idea. Idea itulah yang
melahirkan pengetahuan yang sebenarnya.
Pada
gambaran Plato tentang dunia
yang dua itu terdapat tingkat yang mempertalikan buah pikiran filosofi yang
lama. Ajaran Herakleitos tentang
semuanya mengalir, di mana tak ada yang tetap, dapat ditampung dalam dunia
Plato yang bertubuh. Dunia yang kelihatan yang berisikan badan-badan bertubuh,
yang menjadi objek pemandangan dan pengalaman, yang berjenis rupa dan berubah
senantiasa disebutnya dunia Herakleitos yang selalu dalam kejadian. Di situ
didapati terus menerus timbul dan hilang dengan tidak ada yang tetap. Pikiran
Parmenides yang bersendi pada Adanya yang satu dan tetap, yang meniadakan
kelihatan banyak dan berubah-ubah, dapat ditempatkan dalam dunia Plato yang
tidak bertubuh, dunia Idea.
Juga
pertentangan yang hebat antara kaum sofis dan Socrates dialirkan oleh Plato ke dalam dunia
yang berada sebelah-menyebelah itu. Dalam memperdalam pendapat Socrates tentang
pengertian, ia memasukkan ke dalam ajarannya teori pengetahuan kaum sofis yang
berdasarkan pendapat Phytagoras bahwa “manusia adalah ukuran dari
segala-galanya”. Plato menambahkan, bahwa dari pemandangan saja tidak pernah
tercapai pengetahuan dengan pengertian. Pemandangan saja tidak dapat membangun
ilmu. Di sebelah situ mesti ada pengetahuan dengan pikiran untuk mencapai
kebenaran yang sebenar-benarnya, yang umum bagi segala orang. Pikiran dan
pengalaman adalah dua macam tingkat yang berlainan. Nilainya pun berlainan
pula.
Dalam
konsepsi Plato, dunia yang bertubuh dan dunia yang tidak bertubuh
terpisah sama sekali. Ini kelanjutannya pada pendapatnya tentang perbedaan
antara pikiran dan pandangan. Pengetahuan dan pengertian hanya mengenal dunia
yang ada dan tidak menjadi. Pandangan dan pengalaman mengenal dunia yang selalu
menjadi. Tetapi dunia yang bertubuh tidaklah semata-mata berdiri sendiri. Ada
hubungannya di mana-mana dengan dunia yang tidak bertubuh, dunia idea, yang
memberikan makna dan tujuan kepada dunia yang lahir. Bagaimana hubungan yang
dua itu?
Suatu contoh
hubungan itu dapat dilihat dalam daerah matematik. Matematik bekerja dengan
segitiga, buntaran dan bola, yang tidak terdapat dalam dunia yang lahir. Semua
itu adalah gambaran daripada idea yang hidup di dalam dunia yang tidak
kelihatan, dunia atas. Simbol daripada realita yang sebenarnya.
Bangunan-bangunan yang digambar dan dibuat itu adalah tiruan yang tidak
sempurna daripada bentuk matematik yang sebenarnya. Ia merupai idea dari dunia
atas, tetapi tidaklah sama dengan itu.
Suatu contoh
lain tampak pada pekerjaan membangun. Seorang pembuat barang-barang tembikar
memadu tanah liat menjadi kendi. Kepada tanah yang tidak berbentuk itu
diberikannya bentuk berupa kendi. Dari mana diperolehnya bentuk yang memberikan
rupa kepada kendi itu? Bentuk itu tidak ada pada barang
yang dikerjakannya. Bentuk itu datang dari luar. Hal ini ternyata lebih lagi
pada suatu macam barang yang dibuat untuk pertama kalinya. Contoh yang dapat
ditiru belum ada kelihatan dalam dunia yang lahir ini. Si pandai tukang dapat membuatnya karena bangunan barang baru itu tertanam
dalam kepalanya sebagai tiruan daripada bentuk “barang” asal yang berada dalam
dunia yang tidak bertubuh, dunia idea.
Mengenai
hubungan dunia yang dua itu, perlu juga diperhatikan bahwa Plato membagi
pengertian yang ada di dalam dunia idea itu dalam dua golongan. Pertama,
pengertian budi, yang dicari Socrates dengan ketentuan normatif.
Pengertian budi itu akan menentukan tujuan dan nilai daripada kehidupan etik. Kedua,
pengertian matematik yang dalam pengalaman
tidak pernah dilaksanakan. Dalam pandangan tidak pernah terdapat bangunan
matematik yang sebenarnya. Bola yang diperbuat dengan alat teknik dengan
sebaik-baiknya pun tidak akan sempurna, tidak sama dengan bola dalam pengertian
matematik. Pembagian pengertian dalam dua golongan itu besar kelanjutannya
dalam praktik hidup dan ilmu.
Soal yang
pokok yang terbawa oleh konsepsi dunia yang dua itu, dunia yang nyata yang
dapat dialami dan dunia yang nurani berisikan idea, ialah hubungan antara
barang-barang satu-satunya dengan pengertian umumnya. Jika sekiranya tidak ada
idea yang berlaku tetap, dunia yang lahir tidak dapat dipahamkan, kacau balau
rupanya. Semuanya berubah dan berganti, sehingga tak ada kebenaran yang dapat
tinggal. Dan tidak akan mungkin timbul pengetahuan dan ilmu.
Hubungan
antara dunia yang nyata dan dunia yang tidak bertubuh pada Plato serupa dengan
hubungan menjadi pada Herakleitos dan Adanya Parmenides. Idea menjadi
dasar bagi yang ada.Dari dunia atas idea menguasai kenyataan-kenyataan dalam
dunia yang lahir yang timbul dan lenyap. Sebab itu pengetahuan tentang dunia
idea penting sekali dan harus menjadi tujuan bagi pengetahuan yang sebenarnya.
Sekarang
timbul pertanyaan: Bagaiman orang memperoleh pengetahuan tentang dunia itu ?
Dapatkah idea diketahui sebagai hasil dari pemandangan., seperti yang
diutarakan oleh Demokritos? Menurut Plato tidak, sebab
idea itu tempatnya dalam dunia yang lain. Segala pengetahuan adalah tiruan dari
yang sebenarnya, yang timbul dalam jiwa sebagai ingatan kepada dunia yang asal.
Di sini jiwa muncul sebagai “penghubung” antara dunia idea dan dunia yang
bertubuh. Karena melihat sesuatunya teringat oleh jiwa gambaran yang asal, yang
diketahuinya sebelum ia turun ke dunia. Pandangan hanya alasan untuk ingat
kepada idea. Segala pengetahuan dengan pengertian adalah ingatan kata Plato.
Itulah intisari teori pengetahuannya.
Dalam masa,
waktu jiwa belum terikat kepada badan manusia, ia sanggup melihat idea itu dari
dekat. Juga jiwa bertempat dalam dunia yang tidak bertubuh, dunia idea. Setelah
jiwa jatuh ke dunia dan terikat kepada tubuh, idea itu setiap kali timbul dalam
ingatannya. Kalau terpandang barang-barang dalam dunia yang lahir ini, teringat
olehnya idea sebagai bentuk yang asal daripada barang itu. Segala pengtahuan adalah bentuk daripada ingatan.Mempunyai
pengetahuan yang sebenarnya berarti merebut kembali milik yang asli. Dalam
pekerjaan untuk memperoleh pengetahuan dengan pengertian, jiwa bergerak
selangkah demi selangkah ke atas ke dunia idea, dunia asalnya. Kerinduan jiwa
untuk naik ke atas, ke tempat asalnya, adalah suatu gerak filosofi, gerak eros, cinta. Cinta pada pengetahuan, filosophia, menimbulkan tujuan untuk
mengetahui. Bahwa jiwa ingat kembali apa yang dahulu diketahuinya dan bahwa ia
merebut kembali apa yang dahulu dimilikinya, adalah tanda yang ia itu hidup
selama-lamanya.
Menurut
Plato, sebanyak pengertian sebanyak itu pula jenis idea.
Terdapat tiap pengertian yang bersangkutan dengan barang, sifat, hubungan, ada
idea yang bertepatan. Tetapi seluruh dunia idea itu merupakan satu kesatuan
yang di dalamnya terdapat pertingkatan derajat. Idea yang tertinggi adalah idea
kebaikan, sebagai Tuhan yang membentuk dunia. Plato menyamakannya dengan
matahari yang menyinari semuanya. Idea kebaikan tidak saja sebab timbulnya
tujuan pengetahuan dalam dunia yang lahir, tetapi juga sebab tumbuh dan
berkembang segala-galanya.Idea kebaikan adalah pokok. Karena itu dunia idea
tersusun menurut sistim teleologi atau logika yang teratur ke jurusan satu
tujuan yang sudah ditentukan. Suatu susunan yang teratur tepat menurut tujuan
yang sudah tertentu. Karena sinar yang memancar dari idea kebaikan, semuanya
tertarik padanya dan arena itu ia jadi sebab tujuan dari segala-galanya. Dalam
dunia yang asal ia sebab dari Adanya dan pengetahuan. Tetapi sebab itu pada
hakekatnya tidak lain daripada tujuan.
Kemudian
berikut idea keindahan yang rapat sekali hubungannya dengan idea yang
tertinggi. Ia adalah satu bentuk yang terutama daripada bayangan yang baik
dalam dunia yang nyata. Cahaya dari yang indah itulah yang menjadkan jiwa takjub dan rindu hendak kembali ke dunia yang asal. Yang
indah menjadi penghubung yang bekerja kuat antara dunia yang tidak kelihatan
dan dunia yang lahir. Jiwa yang indah yang menjelma dalam perbuatan
menyelenggarakan adab, seni, ilmu, pendidikan, dan usaha
politik, akhirnya naik ke atas dalam bentuk indah yang murni ke tempat asalnya
dalam dunia yang tidak bertubuh. Demikianlah seterusnya tersusun idea
berturut-turut dalam urutan yang diliputi oleh kesatuan.
Tetapi dalam
logikanya susunan dan persangkutan idea itu menghadapi kesulitan. Apabila dunia
idea sejalan susunannya dengan jenis pengertian, apakah dunia itu berisikan
pula bentuk asal dari kejahatan dan keburukan?Plato sendiri sukar
keluar dari kesulitan ini.
Tentang
hubungan benda-benda dengan idea, Plato ada kalanya
menyebut “ikut-serta” benda itu pada idea atau “hadirnya” idea itu pada
benda-benda. Yang pertama, jika ditinjau dari jurusan barang, dan yang
kedua, jika ditinjau dari urusan idea. Tetapi kedua pengertian itu dalam
logikanya bertentangan dengan penerimaan dua dunia yang terpisah sama sekali.
Dengan cara sofistik atau metode Zeno orang dapat menyerang dan meruntuhkan
keutuhan filosofi Plato. Tetapi dengan niat yang baik maksudnya dapat
ditangkap. Kesulitan yang sebenarnya terletak pada kekurangan bahasa untuk
menggambarkan pengertian hubungan dengan setepat-tepatnya.
Dalam ajaran
Plato tentang idea
ada satu konsepsi yang ganjil rupanya, tetapi tepat duduknya, jika di tinjau
dari caranya berpikir. Antara dunia yang bertubuh dengan
dunia yang tidak bertubuh dibentangkannya suatu daerah perpisahan yang netral.
Daerah itu merupakan daerah lukisan matematik, angka-angka dan
bangunan-bangunan ilmu ukur. Lukisan itu berbeda dengan dunia yang berubah-ubah
dan sementara karena ia berlaku tetap untuk selama-lamanya. Sifatnya sama
dengan idea. Ia berbeda dengan idea, karena bangunannya itu dapat dilihat dan
berulang-ulang dilukiskan. Dalam hal ini ia serupa dengan barang-barang yang
bertubuh.
Lukisan
matematik ini ada maknanya. Plato menggambarkan
dengan itu suatu cara, bagaimana jiwa bisa naik ke atas, dari dunia yang lahir
kelihatan ke dunia idea. Yang tinggi-tinggi tidak dapat dicapai sekaligus
dengan sekali lompat. Matematik adalah alat yang baik untuk meningkat
berangsur-angsur dengan urutan yang tepat. Bimbingannya menuju dunia idea
begitu baik menurut Plato, sehingga di atas pintu masuk ke Akademia disuruhnya
rekamkan kalimat”Orang yang tidak tahu matematik jangan masuk ke sini”.
3.
Etik Plato
Seperti
juga dengan pandangan Socrates, etik Plato bersifat
intelektual dan rasional. Dasar ajarannya ialah mencapai budi yang bak. Budi
ialah tahu. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Sebab itu
sempurnakanlah pengetahuan dengan pengertian.
Tujuan
hidup ialah mencapai kesenangan hidup. Yang dimaksud dengan kesenangan hidup
itu bukanlah memuaskan hawa nafsu di dunia ini. Kesenangan
hidup diperoleh dengan pengetahuan yang tepat tentang nilai barang-barang yang
dituju. Di bawah cahaya idea kebaikan orang harus mencapai terlaksananya
keadilan dalam pergaulan hidup. Apa yang baik bagi orang-seorang baik bagi
masyarakat. Dan apa yang baik bagi masyarakat baik bagi orang-seorang. Antara
kepentingan orang-seorang dan kepentingan masyarakat tidak boleh ada
pertentangan.
Pendapat
Plato seterusnya
tentang etik bersendi pada ajarannya tentang idea. Dualisme dunia dalam teori
pengetahuan diteruskannya ke dalam praktik hidup. Oleh karena kemauan seseorang
bergantung kepada pendapatnya, nilai kemauannya itu ditentukan pula oleh
pendapat itu. Dari pengetahuan yang
sebenarnya yang dicapai dengan dialektik timbul budi yang lebih tinggi daripada
yang dibawakan oleh pengetahuan dari pandangan. Jadinya, menurut Plato, ada dua
macam budi.
Pertama,
budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dan pengertian. Kedua, budi bisa
yang terbawa oleh kebisan orang banyak. Sikap hidup yang dipakai tidak terbit
dari keyakinan, melainkan disesuaikan kepada moral orang banyak dalam hidup
sehari-hari.
Tujuan
budi filosofi terletak di dalam dunia yang tidak kelihatan. Budi bisa tujuannya ialah barang-barang keperluan hidup di dunia ini. Oleh
karena tujuannya berlainan, daerah berlakunya berlainan pula. Dengan begitu
Plato mengatasi
pertentangan antara ajaran Socrates dan ajaran kaum sofis. Tetapi ada
hubungan antara yang dua itu. Hubungan itu timbul karena kerinduan jiwa untuk
kembali pulang ke dunia yang asal. Semua yang kelihatan merupai yang tidak
kelihatan. Jiwa yang murni sangat rindu kepada dunia yang asal, dimana ia dapat
memandang semuanya dalam kesuciannya dan kesempurnaannya. Hal ini menjadi dasar
yang normatif bagi etik dan agama.
Manusia
yang mengetahui yang tinggi-tinggi itu yang disinari oleh idea kebaikan, tidak
dapat tidak mencintainya. Keinginannya tidak lain dari pada naik ke atas. Syarat untuk itu ialah mengasah budi.Budi ialah tahu.
Siapa yang tahu akan yang baik, tidak dapat lagi menyimpang dari itu. Siapa
yang cinta akan idea, menuju kepda yang baik. Siapa yang hidup dalam dalam
dunia idea, tidak dapat berbuat jahat. Jadinya jalan untuk mencapai budi
yang baik ialah menanam keinsafan untuk memiliki idea dengan pikiran.
Tanda
dunia idea ialah tidak berubah-ubah, pasti dan tetap dan merupakan bentuk yang
asal. Itulah yang membedakannya dari dunia yang nyata, yang berubah senantiasa.
Dalam perubahan itu dapat ditimbulkan bentuk-bentuk tiruan daripada bangunan
yang asal, dari dunia idea. Sebab itu ada dua jalan yang dapat ditempuh untuk
melaksanakan dasar etik.
Pertama,
melarikan diri dalam pikiran dari dunia yang lahir dan hidup semata-mata dalam
dunia idea. Kedua, mengusahakan berlakunya idea itu dalam dunia yang
lahir ini. Dengan perkataan lain: melaksanakan “hadirnya” idea dalam dunia ini.
Tindakan yang pertama merupakan suatu perbuatan yang ideal. Tindakan yang kedua
kelihatan lebih riil.
Kedua-dua
jalan itu ditempuh oleh Plato. Pada masa mudanya, seperti tertera dalam bukunya Phedros, Giorgias, Thaetet dan Phaedon,
ia melalui jalan pertama. Pelaksanaan etiknya didasarkannya pada memiliki idea
besar-besarnya dengan menjauhi dunia yang nyata. Hidup diatur sedemikian rupa,
sehingga timbul cinta dan rindu kepada idea.
Plato mungkin merasai
kemudian, bahwa ideal itu sukar melaksanakannya. Dalam bagian kedua dari
hidupnya ia berpaling kepada jalan yang kedua. Sungguh pun bangunan-bangunan
tiruan daripada idea jauh dari sempurna, sikap hidup diatur sedemikian rupa,
supaya dunia yang lahir “ikut serta” pada idea. Cara itu dibentangkannya di
dalam bukunya Republik, dengan menciptakan suatu negara ideal.
Tetapi
kedua tujuan etik itu yang berlainan jalannya, dalam konsepsi Plato bersatu kembali
pada bidang agama, yang menekankan bahwa budi adalah tujuan untuk melaksanakan
idea keadilan dalam penghidupan orang-seorang dan dalam negara sebagai badan
kolektif.
4.
Negara Ideal
Dalam buku Republik yang menjadi tujuan hidup Plato tergambar
pendapatnya tentang pembinaan negara, masyarakat dan pendidikan. Plato hidup
dalam masa Athena gilang-gemilang
dalam segala lapangan. Pertentangan antara kaya dan miskin sangat menyolok
mata. Karena itu pertentangan politik juga hebat. Kekuasaan aristokrasi,
oligarki dan demokrasi datang berganti-ganti, dengan tidak dapat mendudukkan
pemerintahan yang tetap. Menurut Plato nasib Athena hanya dapat tertolong
dengan mengubah sama sekali dasar hidup rakyat dan sistim pemerintahan. Itulah
alasan baginya untuk menciptakan bentuk suatu negara yang ideal.
Pandangan
Plato tentang negara
dan luasnya masih terpaut pada masanya. Ia lebih memandang ke belakang dari
ke muka. Negara Yunani, di masa itu ialah kota. Jumlah penduduknya tidak
lebih daripada dua atau tiga ribu jiwa. Penduduk kota ialah orang-orang
merdeka, yang mempunyai milik tanah terletak di luar kota yang dikerjakan oleh
budak-budaknya. Di antara mereka terdapat saudagar, tukang, pandai seni dan
pejabat negara. Menurut kebiasaan di waktu itu pekerjaan yang kasar dikerjakan
oleh budak berlian. Mereka itu tidak dianggap sebagai penduduk sebab tidak
merdeka.
Dalam
pandangan orang diwaktu itu kota adalah suatu badan yang menentukan. Karena
kota itulah orang-seorang mendapat penghargaan atas dirinya. Kepentingan umum
harus didahulukan dari kepentingan orang-seorang. Kepentingan bersama yang
diwakili oleh negara adalah kepentingan yang setinggi-tingginya. Kemerdekaan
kota lebih tinggi tingkatnya dari kemerdekaan orang-seorang. Kalau perlu
kemerdekaan orang-seorang dibatasi untuk menyelamatkan kemerdekaan negara. Di
antara kota-kota di Yunani, kota Sparta lah yang paling sosial sifatnya. Di
situ terdapat hidup yang berdisiplin. Penduduknya makan bersama-sama. Anak
laki-laki dan anak perempuan mendapat pendidikan yang sama. Perkawinan diatur
oleh pemerintah. Anak-anak yang lumpuh dan bercacat dibunuh saja. Tugas
masing-masing untuk kepentingan kota ditetapkan dengan peraturan. Sparta itulah
yang diambil sebagai contoh oleh Plato untuk
menggambarkan suatu negara yang ideal.
Peraturan
yang menjadi dasar untuk mengurus kepentingan umum, kata Plato tidak boleh
diputus oleh kemauan atau pendapat orang-seorang atau oleh rakyat seluruhnya,
melainkan ditentukan oleh suatu ajaran yang
berdasarkan pengetahuan dengan pengertian. Dan ajaran itu datanglah keyakinan,
bahwa pemerintahan harus dipimpin oleh idea yang tertinggi, yaitu kebaikan. Kemauan
untuk melaksanakan itu bergantung kepada budi. Tujuan pemerintah yang benar
ialah mendidik warga-negara mempunyai budi yang benar hanya dari pengetahuan.
Dan karena itu ilmu harus berkuasa di dalam negara. Kesohor ucapan Plato yang
mengatakan, bahwa kesengsaraan dunia tidak akan berakhir, sebelum filosof
menjadi raja atau raja-raja menjadi filosof.
Negara
yang ideal harus berdasar pada keadilan. Tetapi apakah keadilan? Plato mengupas
masalah keadilan itu dengan panjang lebar berupa percakapan, dialog antara
Socrates dengan bebarapa
kawannya. Seorang sofis bernama Thrasymachus mencoba memutuskan persoalan itu
dengan mengatakan, bahwa kekuasaan adalah hukum dan keadilan adalah kepentingan
golongan yang kuat. Berbagai pemerintah, baik yang demokrasi maupun yang
aristokrasi, membuat undang-undang menurut kepentingan mereka masing-masing.
Undang-undang yang melindungi kepentingan mereka itu dikemukakan kepada rakyat
sebagai “adil” dan siapa yang melanggarnya dianggap “bersalah” dan dihukum.
Tetapi kalau muncul seorang yang kuat, ia akan menghapuskan segala peraturan
itu. Dia itu yang ingin hidup, membiarkan keinginannya berkembang. Tetapi kalau
hawa nafsunya sudah mencapai puncaknya. Ia harus mempunyai keberanian dan akal
untuk memuaskan segala keinginannya. Thrasymachus menganggap itu sebagai
keadilan yang bisa dan sebagai ketinggian derajat. Tetapi orang banyak tidak
dapat berbuat begitu. Sebab itu dicelanya orang yang semacam itu, karena mereka
malu akan ketidakmampuan mereka yang ingin mereka sembunyikan. Tindakan orang
itu disebutnya perkosa dan tidak bermalu. Mereka mengikat sifat yang berani dan
memuji-muji keadilan karena mereka sendiri penakut.
Gambaran dalam dialog ini
menunjukkan pendapat sofis yang bersifat relatif, yang tidak disetujui oleh
Socrates yang tujuannya
mencari pengertian. Akhirnya Plato menyebut dalam
suatu soal-jawab yang lain lagi, bahwa “keadilan adalah hubungan antara
orang-orang yang bergantung kepada suatu oraganisasi sosial”. Sebab itu masalah keadilan itu dapat dipelajari dan
struktur masyarakat. Oleh karena struktur
masyarakat bergantung kepada kelakuan manusia, maka kelakuan manusia itulah yang
harus dipatuhkan dengan pendidikan. Negara menurut Plato adalah manusa dalam
ukuran besar. Kita tidak dapat mengharapkan negara jadi baik, apabila
orang-seorang kelakuannya tidak bertambah baik.
Keadilan dalam negara hanya
tercapai, apabila tiap-tiap orang mengerjakan pekerjaan yang terbentuk bagi
dia. Keadilan bagi orang-seorang terdapat, apabila segala bagian daripada
jiwanya, baik yang berkuasa maupun yang mengabdi, mengerjakan kerjanya
sendiri-sendiri. Pembagian pekerjaan adalah dasar bagi Plato untuk mencapai perbaikan hidup. Berhubung
dengan pembagian kerja itu Plato membagi penduduk negara dalam tiga golongan.
1)
Golongan
yang bawah adalah golongan rakyat jelata, yang merupakan petani, pekerja,
tukang dan saudagar. Kerja mereka ialah menghasilkan keperluan sehari-hari bagi
ketiga-tiga golongan. Mereka itu merupakan dasar ekonomi bagi masyarakat. Karena mereka menghasilkan,
mereka tidak boleh serta dalam pemerintahan. Sebagai golongan yang berusaha
tidak boleh mempunyai hak milik dan harta, boleh berumah tangga sendiri. Mereka
hidup dalam keluarga masing-masing. Sekalipun mereka bebas berusaha, budi
mereka harus terasuh, yaitu budi pandai menguasai
diri.
2)
Golongan
tengah ialah golongan penjaga atau “pembantu” dalam urusan negara. Terhadap ke
luar tugas mereka memepertahankan negara dari serangan musuh. Terhadap ke dalam
tugasnya menjamin supaya undang-undang dipatuhi rakyat. Dasar kerjanya
semata-mata mengabdi kepada negara. Oleh karena itu mereka tidak boleh
mempunyai kepentingan diri sendiri. Mereka tidak boleh mempunyai harta
perseorang dan keluarga. Mereka tinggal bersama dalam asrama, hidup dalam
sistem komunisme yang seluas-luasnya, meliputi perempuan dan anak-anak. “Milik”
bersama atas perempuan tidak berarti bahwa mereka dapat memuaskan hawa nafsu
sesukanya. Hidup mereka didasarkan atas perbaikan jenis manusia dan hubungan
mereka dengan perempuan diatur oleh negara dengan pengawasan yang rapi. Anak yang
lahir dari hubungan mereka dipungut dan dididik oleh negara. Anak itu tak tahu
siapa bapaknya dan siapa ibunya. Tiap-tiap ibu yang melahirkan anak dari
penjaga dipandang ibu dari segala anak. Tiap-tiap anak memandang semua penjaga
bapaknya. Semua anak yang lahir di situ mengaku satu sama lain bersaudara,
kakak-beradik. Tiap orang laki-laki dipandang bapak, dan tiap orang perempuan
ibu. Dengan begitu diharapkan akan timbul persaudaraan antara segala manusia.
Hanya dengan hidup seperti itu kaum penjaga, menurut Plato-dapat membulatkan segala
perhatiannnya kepada negara dan masyarakat. Laki-laki dan perempuan dapat
pendidikan yang sama. Sebab itu juga data menjadi penjaga, menjadi ahli perang.
Budi golongan ini ialah keberanian. Budi itu harus terdidik terus.
3)
Golongan
atas ialah kelas kelas pemerintah atau filosof. Mereka terpilih dari yang
paling cakap dan terbaik dari kelas penjaga, setelah menempuh pendidikan dan
latihan spesial untuk itu. Tugas mereka ialah membuat undang-undang dan
mengawasi pelaksanaanya. Mereka memangku jabatan yang tertinggi. Selain itu
dari mereka mempergunakan waktu yang terluang untuk memperdalam filosofi dan
ilmu pengetahuan tentang idea kebaikan, yang menjadi puncak dalam ajaran Plato. Mereka harus menyempurnakan
budi yang tepat bagi golongan mereka: budi kebijaksaan.
Plato berpendapat bahwa dalam tiap-tiap negara segala golongan
dan segala orang-orang seorang adalah alat semata-mata untuk kesejahteraan
semuanya. Kesejahteraan semuanya itulah yang menjadi menjadi tujuan yang
sebenarnya. Dan itu pulalah yang menentukan nilai pembagian pekerjaan. Dalam
negara yang ideal itu golongan pengusaha menghasilkan, tetapi tidak memerintah.
Golongan penjaga melindungi, tetapi tidak memerintah. Golongan cerdik pandai
diberi makan dan dilindungi, dan mereka memerintah.
Ketiga macam budi yang dimiliki
oleh masing-masing golongan, yaitu bijaksana, berani, dan menguasai diri dapat
menyelenggarakan dengan kerjasama budi keempat bagi masyarakat, yaitu keadilan. Oleh karena negara ideal
tergantung kepada budi penduduknya, pendidikan menjadi urusan yang terpenting
bagi negara. Menurut Plato, pendidikan anak-anak dari umur
10 tahun ke atas menjadi urusan negara, supaya mereka terlepas dari pengaruh orang
tuanya. Dasar yang terutama bagi pendidikan anak-anak ialah gimnastik
(senam) dan musik. Tetapi gimnastik didahulukan. Gimnastik
menyehatkan badan dan pikiran. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang
berani, yang diperlukam bagi seorang penjaga. Di samping itu diberikan pelajaran membaca,
menulis, dan berhitung beberapa perlunya. Dari umur 14 sampai 16 tahun kepada
anak-anak diajarkan musik dan puisi serta mengarang bersajak. Musik menanam
dalam jiwa manusia perasaan yang halus, budi yang halus. Karena musik jiwa
kenal akan harmoni dan irama. Kedua-duanya adalah landasan yang baik untuk
menghidupkan rasa keadilan. Tetapi dalam pendidikan musik harus dijauhkan
lagu-lagu yang melemahkan jiwa serta yang mudah menimbulkan nafsu buruk. Begitu
juga tentang puisi. Puisi yang merusak moral disingkirkan. Pendidikan musik dan
gimnastik harus sama dan seimbang.
Dari umur 16 sampai 18 tahun
anak-anak yang menjelang dewasa diberi pelajaran metematik untuk mendidik jalan
pikirannya. Di sebelah itu diajarkan pula kepada mereka dasar-dasar agama
dan adab sopan, supaya di kalangan
mereka tertanam rasa persatuan. Plato mengatakan, bahwa suatu bangsa tidak akan
kuat, kalau ia tidak percaya pada Tuhan: Seni yang memurnikan jiwa dan perasaan
Yang Baik dan Yang Indah, diutamakan mengajarkannya. Pendidikan ini tidak saja
menyempurnakan pandangan agama, tetapi juga mendidik dalam jiwa pemuda
kesediaan berkurban dan keberanian menentang maut. Dari umur 18 sampai 20 tahun
pemuda mendapat didikan militer.
Pada umur 20 tahun diadakan
seleksi yang pertama. Murid-murid yang maju dalam ujian itu mendapat didikan
ilmiah yang mendalam dalam bentuk yang lebih teratur. Pendidikan otak, jiwa,
dan badan sama beratnya. Setelah menerima pendidikan ini 10 tahun lamanya
datanglah setelah yang seleksi yang pertama. Yang jatuh dapat diterima sebagai
pegawai negeri. Yang jatuh dapat diterima sebagai pegawai negeri. Yang maju dan
sedikit jumlahnya meneruskan pelajarannya 5 tahun lagi dan dididik dalam ilmu
pengetahuan tentang adanya ajaran tentang idea dan dialektik. Setelah tamat
pelajaran itu, mereka dapat memangku jabatan yang lebih tinggi. Kalau mereka
sudah 15 tahun bekerja dan mencapai umur 50 tahun, mereka diterima masuk dalam
lingkuangan pemerintah atau filosof. Pengetahuan dan pengalaman mereka dalam
teori dan praktik sudah dianggap cukup untuk melaksanakan tugas yang tertinggi
dalam negara: menegakkan keadilan berdasarkan idea kebaikan.
Plato sadar
benar, bahwa konsepsinya itu hanya merupakan suatu “gambaran asal”, sebagaimana
idea lainnya. Seperti ternyata dalam pengalaman idea itu tidak dapat dicapai
seluruhnya, hanya dapat didekati. Dalam
buku yang dikarangnya kemudian, hukum, berbagai segi yang yang pokok yang
dikemukakan di dalam Republik diperlemahnya. Milik bersama atas segala harta
dan kerjasama ekonomi yang sebulat-bulatnya hanya mungkin bagi
dewa-dewa dan anak-anak dewa. Milik perseorangan dibolehkan, tetapi kemiskinan
dan pertumpukan harta di satu tangan harus dilarang.
Banyak pengarang yang menamakan
ciptaan Plato itu suatu sistem sosialisme. Tetapi jika
ditinjau benar-benar, negara idealnya itu hanya merupakan negara sosial yang
tujuannya menghilangkan kemiskinan dan menegakkan keadilan. Pelaksanaan
komunisme hanya dalam kalangan penjaga yang jumlahnya kira-kira 5% dari seluruh
penduduk. Masyarakat yang bertingkat bukanlah sosialisme.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar